Pandai Pencitraan, Lupa Pengabdian: Refleksi Akhir Tahun
ILUSTRASI Pandai Pencitraan, Lupa Pengabdian: Refleksi Akhir Tahun.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Kalau ada laporan kinerja yang sederhana, terbuka, dan mudah diakses warga, kita semua bisa melihat peta pengabdian tanpa harus menunggu hadirnya drama layar.
Kita juga bisa punya tolok ukur akuntabilitas yang tidak rumit. Sesuatu yang bisa dibaca oleh siapa saja: target yang jelas, capaian yang transparan, dan proses yang tidak perlu disembunyikan. Ukuran seperti itu tidak untuk menyalahkan, tetapi untuk membantu kita berjalan berdampingan sebagai warga dan pelayan publik.
Sebagai hikmah tambahan, psikologi memberikan satu pengingat penting. Konsep narcissistic reward loop menjelaskan bagaimana media sosial memberikan dopamin kecil setiap kali seseorang mendapat perhatian semacam ”likes” atau komentar.
Bukan hanya pejabat, kita semua merasakannya. Bedanya, ketika perhatian itu menjadi penentu utama cara kita bekerja dan berkomunikasi, niat baik bisa perlahan bergeser tanpa kita sadari.
Kadang kita lupa bahwa setiap tindakan membawa gema sendiri, bahkan ketika kita tidak mengatakan apa-apa. Dalam khazanah nilai yang sudah hidup berabad-abad, Rasulullah SWA pernah mengingatkan, ”barangsiapa memperdengarkan amalnya, Allah akan memperdengarkan (aib) dirinya; dan barangsiapa berbuat riya’, Allah akan menyingkap riya’nya.” (H.R. Muslim).
Pesan itu, bila kita resapi dalam konteks kemanusiaan, mengajak kita merapikan niat. Tujuannya, yang tampak di luar dan yang tumbuh di dalam tetap bergerak seirama, setulus-tulusnya.
Menjelang tahun baru, mungkin inilah saat yang tepat untuk menata ulang langkah. Tidak semua yang sunyi harus dilupakan, tidak semua yang tak terlihat harus dianggap sepele. Ada pekerjaan yang lebih keras dari tampil: menjaga agar hati tetap jujur pada apa yang ingin kita lakukan.
Mungkin, di antara kesibukan kita menata dunia luar, kita bisa memberikan ruang sedikit untuk dunia dalam. Sebab, pada akhirnya, cahaya yang paling tahan lama tidak berasal dari sorotan kamera, tetapi dari ketulusan yang bekerja tanpa banyak ingar bingar.
Menutup 2025, kita mungkin bisa menyimpan satu harapan kecil: di tahun-tahun mendatang, panggung besar yang kita sebut negara bisa memberikan ruang lebih luas bagi pengabdian yang tulus, bukan hanya penampilan yang indah.
Kita tahu perjalanan ini panjang, tetapi setiap langkah kecil –bahkan yang sunyi– tetap berarti. Selebihnya, biarlah tahun baru mengajari kita cara-cara baru untuk hadir, bekerja, dan melayani. Stay relevant! (*)
*) Bagus Suminar adalah wakil ketua ICMI Jatim dan anggota tim Litbang Persyada Al Haromain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: