Teror Bom Jelang Natal di Sepuluh Sekolah di Depok: Pelaku Cari Perhatian

Teror Bom Jelang Natal di Sepuluh Sekolah di Depok: Pelaku Cari Perhatian

ILUSTRASI Teror Bom Jelang Natal di Sepuluh Sekolah di Depok: Pelaku Cari Perhatian.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Di saat terorisme di Indonesia surut, sepuluh sekolah di Depok, Jabar, diteror bom menjelang Natal kemarin. Kamila Hamdi diduga mengirim e-mail teror ke sekolah-sekolah itu. Tim penjinak bom Polri pun memeriksa. Tidak ada bom. Kamila diperiksa polisi. Katanyi, dia tak pernah mengirim e-mail tersebut.

TERORIS aktif di Indonesia, terakhir terjadi Minggu, 28 Maret 2021. Bom bunuh diri. Pelaku Ibrahim Ibnu Andra, dengan badan penuh bom, naik motor dan berhenti di depan Gereja Katedral Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Sewaktu motor pelaku berhenti, persis saat kebaktian di gereja itu selesai, dan para jemaat keluar gereja hendak pulang. Bom di badan pelaku meledak. Serpihan daging pelaku beterbangan seperti sekumpulan belalang. Dari pihak jemaat gereja, 20 orang korban luka berat dan ringan. 

BACA JUGA:Kisah Bambang Sugianto: Wali Napiter yang Pernah Diteror Bom Ikan

BACA JUGA:Kisah Sedih Harry Maguire: Bek Termahal Dunia Dibully dan Diteror Bom

Setelah itu, tak ada lagi teroris bom di Indonesia. Kalau ancaman, banyak. Ancaman kosong. Termasuk dua ancaman bom dalam sepekan terakhir menjelang Natal ini. Satu di Bandung, satu di Depok. 

Di Bandung, Jumat, 19 Desember 2025, warga heboh. Di depan GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun) Ruko ITC Kosambi, Bandung, ditemukan benda mirip rangkaian bom. Polisi bertindak. Penjinak bom (jibom) Brimob Polda Jabar turun memeriksa benda itu. Ternyata bukan bom.

Kapolrestabes Bandung Kombes Budi Sartono dalam konferensi pers, Rabu, 24 Desember 2025, mengatakan, setelah diperiksa jibom, benda itu cuma mirip bom.

Kombes Budi: ”Ternyata pada saat benda itu diurai, isinya adalah kabel, bungkusan, dan batangan kayu kotak-kotak. Jadi, mirip seperti bahan peledak,” 

Tujuh pria terduga pelaku ditangkap. Mereka diperiksa polisi.

Hasilnya, tujuh pemuda itu tengah membuat konten ledakan bom untuk media sosial. Mereka bikin konten heboh.

Budi: ”Anak muda tersebut melakukan pembuatan konten video buat medsos. Jadi, ada pembuatan konten video yang salah satu konten videonya itu adalah meledakkan ruko.”

Itu bukan teror. Anehnya, tujuh pemuda itu mengaku kepada polisi bahwa mereka tidak tahu telah meletakkan benda tersebut di dekat gereja. Mereka sudah diamankan polisi.

Budi: ”Menurut pengakuan mereka, setelah membuat konten video, properti  konten itu ketinggalan di tempat tersebut. Dan, mereka mengaku tidak tahu bahwa itu di depan gereja.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: