Tiga Ribu Lebih Bencana Hantam Indonesia Sepanjang 2025, Didominasi Hidrometeorologi Basah
Alat berat membuka akses darat yang tertimbun material lumpur, batu, dan pohon di Kabupaten Agam Sumatera Barat-BNPB-
JAKARTA, HARIAN DISWAY – Indonesia mencatat sebanyak 3.176 kejadian bencana sepanjang tahun 2025. Data yang dirilis BNPB menunjukkan bahwa meskipun jumlah kejadian fluktuatif dalam lima tahun terakhir, tahun ini memberikan catatan kelam akibat dominasi bencana hidrometeorologi basah dan hantaman Siklon Tropis Senyar.
Kepala BNPB, Suharyanto, mengungkapkan bahwa tren bencana pada periode 2022–2024 sebenarnya sempat menunjukkan upaya penurunan dampak yang signifikan. Namun, situasi berubah drastis memasuki akhir tahun 2025.
"Tahun 2022 hingga 2024, meskipun angka bencana di atas 3.000 kejadian, kami terus berupaya menekan dampaknya. Namun, saat Siklon Senyar melanda tiga provinsi di Sumatra pada 25-26 November lalu, grafik kerugian dan korban jiwa melonjak kembali," ujar Suharyanto dalam keterangannya.
Pencegahan dan Tantangannya
Menurut Suharyanto, beberapa kejadian bencana seharusnya dapat dicegah atau minimal ditekan dampaknya. Namun, apa yang ditimbulkan akibat adanya siklon tropis Senyar harus menjadi atensi penuh. Berdasarkan data per hari ini, tercatat ada 3.176 kejadian yang secara garis besar merupakan jenis bencana hidrometeorologi basah.
BACA JUGA:BNPB Soroti Banyak Kepala BPBD di Daerah Dijabat Plt: Bisa Kurangi Kemampuan Penanggulangan Bencana
Hal ini sekaligus menandai bahwa upaya menurunkan dampak bencana masih menjadi tantangan bersama. Urusan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat saja, melainkan perlu ada campur tangan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, komunitas, hingga media massa.

Salah satu kejadian bencana alam banjir di wilayah Oku Selatan -BNBP-
"Untuk menurunkan dampak bencana tidak mudah. Karena terkadang terjadi bencana yang sifatnya secara tiba-tiba. Per hari ini ada 3.176 kejadian bencana yang didominasi oleh hidrometeorologi basah,” ungkap Suharyanto.
"Bahwa urusan bencana ini tidak bisa lagi hanya dilakukan oleh pemerintah pusat semata,” pungkasnya.
Mantan Pangdam V/Brawijaya ini mengatakan bahwa hingga hari ini sudah ada lima kabupaten/kota yang mulai masuk fase transisi pemulihan menuju rehabilitasi dan rekonstruksi. Kendati demikian, Kepala BNPB tidak ingin bahwa hal ini menjadikan pemerintah daerah menurunkan kewaspadaan, sebab, potensi cuaca ke depan masih dapat berpotensi memicu kejadian bencana serupa.

Siklon tropis Bakung di dekat kepulauan Cocos (Keeling) Samudera Hindia barat daya Indonesia-NASA-
BACA JUGA:DPP PDIP Kirim 30 Ambulans dan 90 Tenaga Medis ke Lokasi Bencana Atas Perhatian Megawati
"Meskipun kita sedang fokus tanggap darurat, bagi 43 kabupaten/kota di Sumatra. Sekarang sudah ada lima kabupaten/kota sudah masih ke masa transisi pemulihan ke rehabilitasi dan rekonstruksi,” ungkap Suharyanto.
"Mohon di daerah lain agar waspada,” imbuhnya.
Sebagai bentuk antisipasi bagi daerah lain, Kepala BNPB merekomendasikan agar seluruh komponen di daerah dapat melakukan mitigasi dan peningkatan kesiapsiagaan dengan berbagai upaya seperti misalnya; monitoring lapangan hingga apel kesiapsiagaan. Dua hal ini menjadi satu kesatuan yang tak boleh terpisah, sebab, kekuatan pada tiap-tiap daerah dapat terukur dari sinergi yang nyata.
"Segera mulai melihat kondisi di wilayah masing-masing. Kalau diperlukan melakukan apel dan pengecekan alat perangkat personel serta anggaran agar segera dilakukan,” pinta Suharyanto.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: