Optimisme Ekonomi 2026, Pasar Kerja Harus Berubah

Optimisme Ekonomi 2026, Pasar Kerja Harus Berubah

ILUSTRASI Optimisme Ekonomi 2026, Pasar Kerja Harus Berubah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

MENATA ULANG PASAR KERJA: DARI REAKTIF KE STRATEGIS

Dalam situasi seperti ini, negara tidak bisa hanya hadir sebagai penyangga sosial setelah PHK terjadi. Penataan ulang pasar kerja harus bergeser dari pendekatan reaktif menuju strategi jangka menengah dan panjang. Fokusnya tidak sekadar menciptakan lapangan kerja, tetapi juga memastikan transisi kerja berjalan adil dan produktif.

Pertama, kebijakan ketenagakerjaan perlu berpindah dari orientasi administratif ke orientasi kebutuhan riil dunia usaha. Program pelatihan, vokasi, dan reskilling harus benar-benar berbasis permintaan sektor yang tumbuh, tidak sekadar menyerap anggaran. 

Tanpa keterkaitan langsung dengan industri dan pasar kerja lokal, pelatihan hanya akan menghasilkan sertifikat tanpa pekerjaan.

Kedua, sistem perlindungan bagi pekerja terdampak PHK perlu diperkuat sebagai jembatan menuju pekerjaan baru. Skema jaminan kehilangan pekerjaan seharusnya terintegrasi dengan layanan bimbingan karier, pelatihan singkat yang relevan, dan akses ke sektor-sektor yang masih tumbuh seperti logistik, manufaktur bernilai tambah, layanan kesehatan, dan ekonomi hijau.

Ketiga, arah investasi harus lebih inklusif. Pertumbuhan yang bertumpu pada sektor padat modal dan berteknologi tinggi berisiko menciptakan pertumbuhan tanpa pekerjaan. 

Karena itu, pembangunan kawasan industri, hilirisasi sumber daya alam, dan proyek infrastruktur perlu disertai strategi link and match dengan UMKM dan tenaga kerja lokal. Tujuannya, manfaat ekonomi tidak terpusat dan ketimpangan tidak melebar.

Keempat, literasi keuangan dan ketahanan pekerja perlu menjadi bagian dari kebijakan pasar kerja. Dalam dunia kerja yang makin fleksibel dan tidak pasti, kemampuan mengelola pendapatan, utang, dan risiko menjadi faktor penting agar pekerja mampu bertahan dan beradaptasi.

KESIMPULAN: NEGARA TIDAK BISA NETRAL

Gelombang PHK yang terjadi kali ini bukan sekadar siklus ekonomi, melainkan juga sinyal bahwa pasar kerja Indonesia sedang berubah secara mendasar. 

Pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen memberikan harapan, tetapi tidak otomatis menjamin peningkatan kualitas hidup jika struktur pasar kerja dibiarkan berjalan sendiri.

Optimisme ekonomi 2026 hanya akan bermakna jika negara hadir menata ulang pasar kerja secara strategis: memperkuat kualitas sumber daya manusia, memastikan transisi kerja yang adil, dan mengarahkan investasi agar menciptakan pekerjaan layak. 

Tanpa langkah tersebut, pertumbuhan ekonomi berisiko berhenti sebagai angka makro yang meyakinkan, tetapi belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan sehari-hari keluarga Indonesia. (*)

*) Budi Raharjo adalah staf ahli gubernur Jatim bidang kesmas dan SDM dan mahasiswa program doktoral Jurusan PSDM, Unair.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: