Tren DIY Skincare Picu Kerusakan Kulit, Dokter Beri Peringatan
Menggunakan produk perawatan kulit dan bereksperimen secara berlebihan justru dapat merusak kulit.--Freepik
Media sosial turut memperparah kondisi tersebut. Konten perawatan kulit dengan hasil instan mendorong banyak orang meniru. Padahal belum tentu sesuai dengan jenis kulit atau lingkungan mereka.
Perubahan produk yang terlalu sering membuat kulit tidak sempat beradaptasi. Dalam jangka panjang, kondisi itu memicu tekstur kulit kasar, jerawat berulang, dan sensitivitas yang semakin sulit dikendalikan.
Bahaya lain dari cosmetic abuse adalah kerusakan yang tidak langsung terlihat. Over-eksfoliasi dan penyalahgunaan produk keras bisa tampak aman di awal.

Bisa melihat hasil skincare bekerja maksimal tidak bisa dilakukan secara instan.--Unsplash
BACA JUGA:5 Rekomendasi Skincare Lokal yang Efektif Mencerahkan Wajah
BACA JUGA:8 Cara Menyimpan Skincare, Tetap Aman di Cuaca Panas atau Lembap
Namun kemudian memunculkan penuaan dini, pembuluh darah yang terlihat jelas, hingga gangguan skin barrier kronis. Proses pemulihan pun dapat memakan waktu berbulan-bulan.
Dr Ravali menyarankan pendekatan perawatan yang lebih sederhana. Gunakan secara bertahap pembersih lembut, pelembap, tabir surya, serta beberapa produk pilihan. Itu dinilai sudah cukup bagi kebanyakan orang.
Masalah kulit yang menetap seperti jerawat, flek, atau iritasi sebaiknya dievaluasi secara medis. Bukan ditutup dengan produk yang semakin keras atau perawatan rumahan tanpa dasar ilmiah.
Perawatan kulit sejatinya bertujuan melindungi, bukan membebani. Mengikuti tren tanpa pemahaman, mencari jalan pintas, dan bereksperimen berlebihan justru berisiko menimbulkan kerusakan jangka panjang. Konsistensi, kesabaran, dan panduan yang tepat tetap menjadi kunci kulit sehat. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: