Pameran Move Art di Galeri Prabangkara Awali Pekan Seni Rupa Jawa Timur 2026

Pameran Move Art di Galeri Prabangkara Awali Pekan Seni Rupa Jawa Timur 2026

Diskusi seni dalam pameran Move Art yang digelar pada 3-10 Januari 2025.-Agus Koecink-

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Komunitas Gerakan Perupa Antar Kota (Geprak) bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur menggelar pameran seni.

Mengusung tema Move Art, acara itu berlangsung sejak 3 hingga 10 Januari 2026 di Galeri Prabangkara, kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. 

Pameran itu mengawali Pekan Seni Jawa Timur 2026. Move Art menjadi wadah kreativitas bagi 50 Perupa anggota Geprak dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Di antaranya, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Tuban, Jember, Tulungagung, Bondowoso hingga Lumajang. Ada pula peserta pelukis yang berasal dari Tangerang. 

BACA JUGA:Pameran Motherland, Tafsir Seni Bambang Asrini atas Ibu Pertiwi

BACA JUGA:Pameran Urban Echoes di Kokoon Hotel Surabaya Hidupkan Jejak Kota Lama Lewat Sketsa


Beberapa lukisan karya perupa gerakan perupa antar kota pada pameran Move Art pada 3-10 Januari 2026 di Galeri Prabangkara, kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya.-Sindhy Nurhaliza-Harian Disway

Ada sebanyak 60 lukisan yang dipamerkan dengan berbagai ukuran, gaya dan aliran. Seperti realis, naturalis, dekoratif, impresionis hingga abstrak. Tidak hanya pameran lukisan, Move Art juga membuka diskusi seni yang terbuka untuk umum.

“Sejak 2020 kami sudah bergerak untuk menyelenggarakan pameran seni di Surabaya. Tujuannya agar perupa di Jawa Timur terus bergerak dan berkarya untuk pengembangan dan kemajuan seni rupa. Khususnya di Jawa Timur,” ujar Muit Arsa, Ketua komunitas Geprak.

Para peserta pelukis memamerkan karya terbaik mereka. Ada lukisan yang menggambarkan figur Joker, pasar tradisional, kaligrafi, bunga, hingga abstrak. Masing-masing lukisan memiliki arti yang mendalam. 


Para perupa yang berpartisipasi dalam pameran Move Art, 3-10 Januari 2025 di Galeri Prabangkara, kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya.-Agus Koecink-

Tepat di tengah kota, pengunjung bisa tenang sejenak. Menikmati lukisan dengan segala makna yang tersirat. Sembari terus menghidupkan karya seni buatan manusia di tengah arus digitalisasi.

BACA JUGA:Pameran Tunggal Keempat Anang Prasetyo Tak Sengguh Kemanten Anyar, Sajikan Ruang Kontemplatif Petani Jiwa

BACA JUGA:PCU Gelar Pameran Lighthouse Library iDESEMBER, Angkat Nilai Moral untuk Anak

Agus "Koecink" Sukamto, penulis seni rupa menjelaskan bahwa konsistensi pameran itu membuktikan bahwa seni rupa tidak menyerah pada zaman yang serba digital.

“Gerakan tahunan ini ibarat aliran sungai yang konsisten. Membawa endapan pengalaman baru. la membuktikan bahwa seni rupa kita tidak menyerah pada logika pasar atau kecepatan teknologi semata,” ungkapnya.

Di tengah hiruk pikuk kota, mereka ingin semua orang sadar. Bahwa kota tanpa seni hanyalah mesin raksasa yang dingin. Ia berfungsi. Tapi tidak hidup. 

Pameran itu diharapkan dapat memotivasi seniman agar semangat untuk bereksplorasi tanpa batas. Menjadikan kota lebih hidup. Karena karya seni adalah oksigen bagi kota. (*)

*) Peserta magang Kemenaker RI.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: