Mengadili Mens Rea: Komedi, Kritik Politik, dan Ketakutan Negara

Mengadili Mens Rea: Komedi, Kritik Politik, dan Ketakutan Negara

ILUSTRASI Mengadili Mens Rea: Komedi, Kritik Politik, dan Ketakutan Negara.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Pada akhirnya, Mens Rea Pandji bukanlah niat jahat, ia perlu dibaca dari sudut yang berbeda, yaitu niat untuk jujur. Niat untuk mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, dan bahwa menertawakannya adalah cara kita menjaga kewarasan bersama. Negara yang percaya diri tidak perlu takut pada niat semacam itu.

Pertanyaannya kini bukan hanya tentang satu komedian atau satu pertunjukan. Pertanyaannya adalah tentang arah yang sedang kita tempuh: apakah kita ingin menjadi masyarakat yang berani menghadapi kritik dengan argumen atau negara yang gelisah setiap kali kritik dihadapkan kepadanya. 

Dan, seperti dalam novel Orwell, yang menentukan bukan seberapa keras negara berbicara, melainkan seberapa jauh ia berani membiarkan warganya berpikir. Kita tidak perlu menunggu kisah ini menjadi tajuk media asing yang menertawakan sebuah negeri yang takut pada kritik seorang komedian. 

Jika kritik diseret ke kantor polisi, itu bukan lagi soal etika humor, melainkan tanda bahaya bagi kebebasan dan nalar publik. Demokrasi yang sehat menjawab satire dengan argumen, bukan dengan ancaman hukum. (*)


*) Jaleswari Pramodhawardani adalah kepala Laboratorium Indonesia 2045 (Lab45) dan deputi V Polhukam Kantor Staf Presiden 2015–2024.-Dok. Pribadi-

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: