Ketika Perseteruan 'Dua Anak' Gus Dur Tak Juga Berakhir
ILUSTRASI Ketika Perseteruan 'Dua Anak' Gus Dur Tak Juga Berakhir.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
DUA ”anak” Gus Dur –anak ideologis, anak asuh, anak politik, atau apa pun julukannya– Gus Yahya (Yahya Cholil Staquf) dan Gus Ipul (Saifullah Yusuf), jelas pernah lama dengan Gus Dur.
Keduanya punya modal besar menuntaskan konflik ini, dengan cara mudah (asal ada niat dan tidak ada agenda lain). Masak ilmu Gus Dur tidak ”menetes” di batin mereka.
Ingat satire Gus Dur.
Menurut Gus Dur, ada dua macam masalah di dunia: masalah yang bisa diselesaikan (yang tidak perlu dipikirkan berlebihan karena ada solusinya) dan masalah yang tidak bisa diselesaikan (yang juga tidak perlu dipusingkan karena memang tidak ada jalan keluar).
BACA JUGA:Haul Gus Dur Ke-16: Menghidupkan Warisan ’Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat’
BACA JUGA:Haul Gus Dur Pahlawan: Semangat Kemanusiaan yang Menggema Melampaui Waktu
Maka, penulis ingin fokus membahas siapa dua sosok itu. Bukan pembahasan konflik PBNU yang sudah banyak diulas di banyak media.
Saya tidak mengenal dekat Gus Yahya. Tapi, kalau Gus Ipul, saya agak banyak paham. Pada 1996–1998 malah pernah satu kantor, membangun dan menghidupkan Info Halal Multimedia, sebuah perusahaan media di Jakarta.
Waktu Gus Dur sakit stroke sebelum reformasi, saya sering ikut menjenguk dengan Cak Nur (Nur Cholis Madjid) dan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Waktu itu Gus Ipul ”sopir” dan ajudan Gus Dur. Karena memang keponakannya. Tapi, unsur trah Denanyar bukan trah Tebuireng.
BACA JUGA:Menjaga Marwah NU ala Gus Dur: Keberanian Moral di Atas Segala Kepentingan
Tidak lama setelah itu, Gus Ipul makin moncer, jadi ketua umum GP Anshor. Bahkan, beberapa teman dekat di sana bercerita, inilah momentum namanya menjadi tokoh muda baru di kancah politik Indonesia.
Bahkan, konon, Gus Ipul –karena punya privilese– berhasil mengundang pertemuan tokoh-tokoh pengusaha muda. Baik anak Liem Sioe Liong, Ciputra dll untuk membangun kedekatan dengan ”gus-gus muda” Chinese tersebut.
Konon, zaman itu banyak kiai dari daerah yang ”diopeni” Gus Ipul kalau ke Jakarta. Rumor yang sudah bukan rahasia. Positioning Gus Ipul makin membahana. Pola membutuhkan dan dibutuhkan menjadi lingkaran mendalam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: