Perusahaan yang Garap Kereta Cepat Thailand Pernah Dihukum karena Gedung Runtuh
BANGKAI KERETA yang terbakar setelah kejatuhan crane di Thailnad, 14 Januari 2026.-LILLIAN SUWANRUMPHA-AFP-
Di ranah perkeretaapian sendiri, Thailand memiliki sekitar 5.000 kilometer jaringan. Tapi, kondisinya kian menua. Sehingga, masyarakat lebih memilih perjalanan darat dengan moda lain.
BACA JUGA:Prabowo Siap Tanggung Jawab Utang Kereta Cepat Whoosh: Tak Perlu Diributkan!
BACA JUGA: AHY Beberkan Opsi Penggunaan APBN untuk Pelunasan Utang Kereta Cepat Whoosh
Pada 2023 misalnya, kereta barang menabrak pikap yang menyeberang rel di Thailand timur dan menewaskan delapan orang.
Proyek kereta cepat yang kini berada dalam sorotan itu sebenarnya menjadi salah satu poros modernisasi infrastruktur Thailand sejak 2020. Ketika itu, pemerintahan Prayut Chan-o-Cha menandatangani kesepakatan untuk menanggung seluruh biaya domestik dan menggunakan teknologi atas saran Tiongkok.
Jalur sepanjang 600 km itu kelak akan dilayani kereta buatan Tiongkok dari Bangkok menuju Nong Khai di perbatasan Laos dengan kecepatan hingga 250 km/jam.
Kecelakaan itu meninggalkan pertanyaan besar mengenai tata kelola proyek multinasional dan keselamatan dalam skema Belt and Road. Dengan kontraktor lokal yang memikul tanggung jawab operasional dan konsultan dari Tiongkok yang terlibat dalam perancangan, garis akuntabilitas kerap bersilangan.

WARGA BERKERUMUN di dekat lokasi jatuhnya crane, 14 Januari 2026.--
Situasi itulah yang muncul dalam hari-hari setelah tragedi: pihak konsultan menyebut kontraktor tunggal sebagai penanggung jawab, pemerintah menyorot regulasi, dan Beijing menegaskan posisi sebagai pihak yang mengutamakan keselamatan.
Sementara itu, di level provinsi, aparat Sikhio sempat menghentikan operasi penyelamatan akibat kebocoran bahan kimia. Tapi, operasi penyelamatan itu kembali dilanjutkan.
Otoritas lokal sebelumnya menyebut bahwa crane jatuh ke kereta. Sehingga, kereta anjlok dari rel dan terbakar.
Dari sisi sosial, kecelakaan tersebut kembali menyalakan diskusi mengenai harga modernisasi yang ditanggung publik. Proyek-proyek berskala raksasa memang menjanjikan konektivitas. Tetapi, setiap kegagalan teknis membuka kembali catatan lemahnya pengawasan, kapasitas kontraktor, dan koordinasi lintas negara.

TIM PENYELAMAT mengangkat bangkai kereta yang tertimpa cranedi Thailand, 14 Januari 2026.--
Pada akhirnya, tragedi itu tidak hanya menguji sistem keselamatan pekerjaan konstruksi Thailand, tetapi juga kredibilitas kerja sama infrastruktur Thailand–Tiongkok. Tanpa reformasi pada penegakan standar dan mekanisme akuntabilitas, modernisasi transportasi dapat menjadi jalan panjang yang tidak hanya mahal, tetapi juga mematikan. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: