Perusahaan yang Garap Kereta Cepat Thailand Pernah Dihukum karena Gedung Runtuh
BANGKAI KERETA yang terbakar setelah kejatuhan crane di Thailnad, 14 Januari 2026.-LILLIAN SUWANRUMPHA-AFP-
KECELAKAAN di Nakhon Ratchasima pada Rabu, 14 Januari 2026, itu terjadi bukan sekadar pada rel biasa. Tetapi di area konstruksi proyek kereta cepat senilai lebih dari USD5 miliar (sekitar Rp 84,3 triliun).
Proyek itu memang didukung Tiongkok. Dan targetnya adalah tersambungnya Bangkok ke Kunming melalui Laos pada 2028. Itu adalah bagian dari proyek Belt and Road Initiatif (BRI) yang digalang Tiongkok.
Nah, crane yang jatuh itu digunakan untuk memasang balok-balok beton. Dan yang menggarap titik itu adalah perusahaan Thailand: Italian-Thai Development.
Kepada kantor berita Agence France-Presse, konsultan teknik Theerachote Rujiviphat dari China Railway Design Corporation mengatakan bahwa Italian-Thail Development adalah satu-satunya perusahaan yang harus dimintai pertanggungjawaban. Sebab, crane itu adalah milik perusahaan tersebut. ’’Dan tahun lalu ada kecelakaan juga yang menjadi tanggung jawab mereka,’’ kata Rujiviphat.
BACA JUGA:Libur Akhir Tahun, Penumpang Kereta Cepat Whoosh Tembus 22 Ribu per Hari
BACA JUGA:Utang Kereta Cepat Whoosh, Danantara Siapkan Skema PSO untuk Pelunasan
Yang dimaksud adalah tragedi runtuhnya bangunan saat gempa Bangkok, Agustus 2025. Ketika itu, sekitar 90 pekerja konstruksi tewas. Setelah itu, direktur perusahaan dan 20 orang lainnya langsung menjadi terdakwa dan dihukum.
Hingga kemarin, Italian-Thai Development, salah satu firma konstruksi terbesar di Thailand, tidak segera menanggapi permintaan klarifikasi.
Reaksi politik muncul cepat di Bangkok. Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menilai penyebab jatuhnya crane harus diselidiki dan pihak yang bertanggung jawab diproses.
Kata Charnvirakul, kecelakaan semacam itu memang sering terjadi. Apalagi, ’’pelakunya’’ adalah perusahaan yang sama. “Saatnya mengubah undang-undang untuk mem-blacklist perusahaan konstruksi yang berulang kali bertanggung jawab atas kecelakaan,” katanya.

KERETA TERGULING akibat jatuhnya crane di Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand.--
Respons resmi juga datang dari Beijing. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Mao Ning mengatakan pihaknya sedang menelusuri kejadian itu. Mereka menjamin ada perhatian besar terhadap keselamatan proyek dan persone”.
Kata Mao Ning, segmen tempat kecelakaan itu memang dikerjakan oleh perusahaan Thailand. Ia pun menyampaikan belasungkawa atas korban.
Kecelakaan itu mengundang kembali perhatian pada persoalan keselamatan industri konstruksi di Thailand. Di Negeri Gajah Putih tersebut, bidang konstruksi memang dikenal rawan tragedi akibat lemahnya penegakan regulasi. Rekam jejaknya panjang: dari insiden bangunan ambruk hingga kecelakaan di lokasi industri yang menewaskan pekerja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: