Maknai Isra’ Mikraj, Khofifah Tekankan Disiplin dan Kebersamaan
ilustrasi-Humas Pemprov Jawa Timur -
SURABAYA, HARIAN DISWAY — Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat menjadikan peringatan Isra’ Mikraj Nabi Muhammad SAW tidak sekadar seremonial keagamaan. Tapi momentum memperkuat nilai sosial, disiplin, dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut Khofifah, Isra’ Mikraj merupakan peristiwa monumental dalam sejarah Islam yang sarat makna. Selain menandai perjalanan spiritual Rasulullah SAW, peristiwa ini menjadi titik lahirnya perintah salat lima waktu yang memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial.
“Isra’ Mikraj tidak hanya berbicara tentang perjalanan ruhani Nabi Muhammad SAW, tetapi juga mengandung pesan mendalam tentang disiplin, keimanan, ketakwaan, serta pentingnya membangun kebersamaan dalam kehidupan sosial,” ujar Khofifah.
Dia menilai, selama ini peringatan Isra’ Mikraj kerap berhenti pada kisah keajaiban dan ritual keagamaan, tanpa diikuti pemaknaan yang lebih substantif. Padahal, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat relevan dengan tantangan masyarakat modern.
BACA JUGA:Prabowo Resmikan SMA Taruna Nusantara di Malang, Khofifah Sambut Positif Demi Pendidikan Karakter
Khofifah menjelaskan, kewajiban salat lima waktu yang ditetapkan dalam peristiwa Isra’ Mikraj merupakan bentuk latihan disiplin yang konsisten. Salat bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sarana membentuk keteraturan hidup.
“Disiplin salat mengajarkan kita untuk menghargai waktu, bertanggung jawab, dan tertib dalam menjalankan peran sosial. Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh distraksi, nilai disiplin ini justru semakin penting,” katanyi.
Menteri Sosial periode 2014 - 2018 iti menambahkan, disiplin dalam Islam tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi berlanjut pada disiplin moral. Kejujuran, menepati janji, dan menjaga amanah merupakan wujud nyata dari nilai ibadah yang diterjemahkan dalam kehidupan sosial.
Selain disiplin, Khofifah menekankan bahwa Isra’ Mikraj merupakan ujian keimanan. Kisah perjalanan yang melampaui nalar manusia kala itu menimbulkan berbagai respons.
Pada peristiwa tersebut, umat diajarkan untuk bersikap dewasa dalam beriman.
“Keimanan yang matang akan melahirkan sikap saling menghargai. Orang yang beriman tidak mudah menghakimi atau merendahkan pihak lain. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, iman seharusnya menjadi sumber ketenangan, bukan pemicu konflik,” ujarnyi.
Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur itu menyebut dari keimanan lahirlah ketakwaan. Salat yang benar akan tercermin dalam perilaku sehari-hari, termasuk sikap adil, jujur, dan empati terhadap sesama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: