Kasus Super Flu Terdeteksi di Bali, Menkes Sebut Ringan dengan Tingkat Kematian Rendah

Kasus Super Flu Terdeteksi di Bali, Menkes Sebut Ringan dengan Tingkat Kematian Rendah

Menurut data Kemenkes RI, daerah dengan potensi sebaran Super Flu cukup masif terjadi di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.--

HARIAN DISWAY  - Dinas Kesehatan Provinsi Bali mengonfirmasi temuan dua kasus positif Influenza A (H3N2) subclade K atau yang populer disebut "Super Flu" pada dua warga di Kota Denpasar.

Meski hasil laboratorium baru diterima pada pertengahan Januari 2026, kedua pasien tersebut diketahui telah terjangkit sejak Oktober 2025 dan saat ini telah dinyatakan sembuh total serta kembali beraktivitas normal. 

Menanggapi temuan ini, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa kemunculan varian flu adalah fenomena biasa yang sudah sering terjadi dalam siklus kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, Menkes menghimbau masyarakat agar tidak panik dan tidak menyikapi isu tersebut secara berlebihan.

Mengutip disway.id, data Kemenkes menunjukkan bahwa karakteristik virus yang ditemukan di Bali ini tidak menunjukkan tanda-tanda bahaya untuk dikhawatirkan. 

"Betu(ada dua kasus,Red), tapi flu ini kan memang rutin terjadi, sudah selalu ada. Yang perlu dicatat agar masyarakat lebih tenang adalah, fatality rate-nya atau tingkat kematiannya sangat rendah sekali," ujar Budi Gunadi saat ditemui di Kementerian Kesehatan, Kamis 15 Januari 2026. 

BACA JUGA:Kasus Super Flu di Indonesia Capai 62, Terbanyak di Jawa Timur

BACA JUGA:62 Kasus Super Flu di Indonesia, Wamenkes Pastikan Masih Aman

Dari sisi medis, Menteri Kesehatan memaparkan bahwa dampak virus ini masih dalam kategori ringan hingga sedang dengan gejala yang sama dengan flu pada umumnya.


Perkembangan virus flu yang terjadi terus menerus memungkinkan munculnya jenis baru. Namun, bukan berarti tingkat keparahan penyakit tersebut ikut meningkat.

Budi Gunandi menilai penyebaran kasus di Bali ini dengan penyebaran influenza biasa yang selama ini sudah berhasil dikelola oleh sistem kesehatan di Indonesia. Oleh karena itu, iya lebih menekankan pentingnya menjaga kondisi fisik dibandingkan dengan menerapkan pembatasan aktivitas yang ketat kepada masyarakat.

Kekuatan sistem kekebalan tubuh merupakan kunci utama dalam menghadapi virus jenis ini, bukan kecemasan.

BACA JUGA:Hadapi Ancaman Super Flu, Edy Wuryanto Minta Pemerintah Tidak Lengah

BACA JUGA:Waspada Super Flu Usai Nataru, Pemkot Surabaya Perketat Skrining Warga dari Luar Negeri

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: