Refleksi Isra Mikraj: Dimensi Kemanusiaan Ajaran Langit

Refleksi Isra Mikraj: Dimensi Kemanusiaan Ajaran Langit

ILUSTRASI Refleksi Isra Mikraj: Dimensi Kemanusiaan Ajaran Langit.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PADA 27 Rajab 1447 H yang bertepatan dengan 16 Januari 2026, umat Islam merayakan Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa itu merupakan rangkaian perjalanan suci Rasulullah dari Masjidilharam di Makkah ke Masjidilaqsa di Yerusalem (Isra). 

Seperti diketahui, Yerusalem (Al-Quds) sejak lama menjadi kota suci yang diperebutkan pemeluk tiga agama samawi: Islam, Kristen, dan Yahudi. Secara historis, tiga agama samawi itu memang memiliki hubungan emosional dengan Al-Quds. 

Dari Masjidilaqsa, Rasulullah meneruskan perjalanan ke Sidratulmuntaha untuk menerima wahyu (Mikraj). Dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa melalui rangkaian perjalanan suci itulah Rasulullah menerima perintah ibadah salat lima waktu. 

BACA JUGA:Isra Mikraj: Mengungkap Makna dalam Kehidupan Modern Indonesia

BACA JUGA:Isra Mikraj 1447 H, Menag Nasaruddin Umar Ajak Umat Perkuat Kepedulian Sosial dan Lingkungan Lewat Salat

Pada konteks itu, dapat dikatakan bahwa Rasulullah telah menerima pesan dari langit, yakni perintah salat. Dengan demikian, dapat dipahami jika dalam sistem peribadatan umat Islam, salat memiliki posisi yang sangat penting. 

Dalam hadis nabi ditegaskan bahwa salat merupakan tiang agama (’imadud din). Barang siapa menjalankan salat berarti mendirikan tiang agama. Sebaliknya, orang yang tidak mendirikan salat sama halnya merobohkan tiang agama. 

Salat juga menjadi amalan yang pertama diperhitungkan pada hari akhir. Barang siapa yang salatnya baik, baik pula seluruh amal ibadahnya. Demikian sebaliknya, mereka yang salatnya buruk, dinilai buruk pula seluruh amal ibadahnya.

BACA JUGA:Menggali Makna Perjalanan Isra Mikraj dan Amalan yang Dianjurkan

BACA JUGA:Memperingati Isra Mikraj, Menag: Mari Tegakkan Salat!

MENANGKAP PESAN SALAT

Dalam sejumlah literatur dikatakan bahwa salat merupakan ibadah kepada Allah SWT dan pengagungan-Nya dengan bacaan-bacaan dan tindakan-tindakan tertentu yang dibuka dengan takbir dan ditutup dengan salam, dengan runtutan dan tertib tertentu yang diterapkan oleh ajaran Islam. 

Menurut Nurcholish Madjid (2005), ibadah salat mempunyai dua makna penting, yakni: makna intrinsik, sebagai tujuan pada dirinya sendiri dan makna instrumental, sebagai sarana pendidikan ke arah nilai-nilai luhur.

Begitu penting ibadah salat sehingga sangat menentukan nasib seseorang di hadapan Allah SWT. Pertanyaannya, adakah kaitan ibadah salat dengan amal sosial seseorang. Pertanyaan itu penting karena tujuan beribadah sejatinya adalah memperbaiki akhlak atau amal sosial seseorang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: