Amerika Serikat Sheriff Dunia: Ketika Tombstone Bertemu Geopolitik Kontemporer

Amerika Serikat Sheriff Dunia: Ketika Tombstone Bertemu Geopolitik Kontemporer

ILUSTRASI Amerika Serikat Sheriff Dunia: Ketika Tombstone Bertemu Geopolitik Kontemporer.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BACA JUGA:Setahun Pemutusan Bantuan Luar Negeri Amerika Serikat, Efek Berantai Bikin Sengsara

Di sisinya berdiri Doc Holliday yang dimainkan Val Kilmer, cerdas, rapuh, sinis, tetapi setia, seorang intelektual frontier yang memahami bahwa dalam dunia tanpa kepastian, moralitas kerap diuji di ujung laras pistol. 

Tombstone bukan sekadar kisah duel dan peluru, melainkan alegori tentang masyarakat yang kehilangan pegangan, ketika hukum tertulis tak lagi cukup untuk menjaga keteraturan.

Dalam Tombstone, Wyatt Earp bukan sekadar penegak hukum. Ia adalah simbol frontier Amerika Serikat, wilayah tanpa kepastian dan tanpa institusi yang mapan, tempat hukum tertulis kerap kalah oleh realitas kekerasan. 

Dalam dunia seperti itu, keputusan harus diambil cepat, tegas, dan sering kali brutal. Duel di O.K. Corral bukan semata adu senjata, melainkan metafora tentang momen ketika ketiadaan negara, memaksa seseorang mengambil peran sebagai hakim sekaligus algojo.

Seperti Wyatt Earp, Trump memandang dunia sebagai frontier baru, wilayah liar yang dihuni aktor non-negara seperti jaringan terorisme dan kartel narkoba, serta rezim yang dituduh berafiliasi dengan ancaman tersebut. 

Ancaman laten di wilayah itu tidak dapat dijinakkan oleh resolusi panjang atau diplomasi yang kehilangan daya paksa. Ia tidak melihat dirinya sebagai pengelola tatanan global yang rapuh, melainkan sebagai sheriff yang merasa wajib bertindak ketika hukum internasional kehilangan wibawanya.

Namun, Wyatt Earp tidak pernah berdiri sendirian. Dalam Tombstone, ia ditemani Doc Holliday, sosok yang bukan pengambil keputusan utama, melainkan pendamping yang memastikan bahwa keputusan itu benar-benar dijalankan pada saat yang dianggap tepat. 

Peran semacam itu lebih tepat tecermin pada figur-figur konservatif yang tegas di lingkaran Trump. Salah satunya Menteri Pertahanan Pete Hegseth. 

Jika Trump adalah sheriff yang menunjuk sasaran dan menentukan arah, figur seperti Hegseth dapat dipahami sebagai representasi Doc Holliday, orang yang memastikan bahwa keputusan tersebut diwujudkan ketika momen dinilai tak lagi bisa ditunda.

Untuk memahami sepak terjang Trump, kita perlu melampaui analisis kebijakan semata dan masuk ke ranah yang lebih mendasar, yakni pretext dan konteks. Tindakan politik tidak pernah lahir dari ruang hampa. 

Ia merupakan hasil perjumpaan antara latar pembentuk pribadi dengan situasi zamannya. Trump adalah contoh ekstrem dari pertemuan keduanya.

Pretext Trump berbeda tajam dari para pendahulunya. Barack Obama dibentuk oleh dunia akademik dan aktivisme sipil, dengan keyakinan kuat pada proses, bahasa, dan legitimasi moral. George W. Bush, meskipun keras dalam kebijakan, tetap bergerak dalam kerangka institusional lama. 

Trump datang dari dunia bisnis properti New York, dunia yang nyaris tidak mengenal kesabaran. Dalam logika tersebut, keputusan yang lambat berarti kerugian, sedangkan kompromi panjang dibaca sebagai tanda kelemahan. Cara pandang itulah yang kemudian ia bawa ke panggung geopolitik.

Pretext tersebut diperkuat oleh lingkungan moral yang melingkupinya. Trump beroperasi dalam etos spiritual puritan Amerika Serikat, sebuah warisan kultural yang menekankan ketertiban, disiplin, dan penegakan sanksi atas pelanggaran. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: