Setahun Pemutusan Bantuan Luar Negeri Amerika Serikat, Efek Berantai Bikin Sengsara

Setahun Pemutusan Bantuan Luar Negeri Amerika Serikat, Efek Berantai Bikin Sengsara

SEKUNTUM BUNGA untuk opegawai United States Agency for International Development (USAID) yang baru saja dipecat setelah lembaga itu dibekukan.-Ting Shen-AFP-

Tahun lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) memutus keran bantuan luar negeri Amerika Serikat. Dan dampaknya kian terang. Juga makin mahal. Bukan hanya dalam dampak kemanusiaannya, tetapi juga dalam ongkos ekonomi global yang harus ditanggung negara-negara miskin, lembaga donor, hingga sistem kesehatan dunia.

AMERIKA Serikat selama ini menyumbang lebih dari 40 persen total bantuan global. Angka itu bukan sekadar statistik fiskal, melainkan sebuah fondasi bagi rantai layanan kesehatan, logistik, dan sumber daya manusia di puluhan negara berkembang.

Ketika bantuan itu dibekukan setelah Trump dilantik untuk masa jabatan keduanya pada 20 Januari 2025, dunia sempat diyakinkan bahwa kebijakan tersebut bersifat sementara. 

Kenyataannya berbeda. Atas nama penghematan anggaran—yang disebut-sebut mendapat nasihat dari Elon Musk—sebanyak 83 persen program US Agency for International Development (USAID) dihapus. Lembaga itu pun dibubarkan.

BACA JUGA:Satu Presiden Diculik, Satu Kekuasaan Diserahkan: Amerika Serikat dan Seni Mengganti Rezim

BACA JUGA:Perang di Venezuela: Bahasa Diplomasi 'Clausewitzian' Mengguncang Geopolitik Amerika Selatan

Dalam perspektif ekonomi, ini adalah guncangan sisi pasokan (supply shock) pada sektor kesehatan global. Bantuan luar negeri bukan hanya “uang obat”, melainkan modal kerja bagi sistem yang jauh lebih kompleks. Misalnya, sektor transportasi, gudang, perangkat lunak pencatatan, pelatihan tenaga kesehatan, hingga edukasi masyarakat.

Ketika modal kerja ini dipotong, kapasitas produksi layanan kesehatan anjlok. Output-nya adalah meningkatnya kematian yang seharusnya bisa dicegah.

Situs Impact Counter memperkirakan, dalam setahun terakhir saja, pemangkasan USAID telah menyebabkan lebih dari 750 ribu kematian. Dan lebih dari 500 ribu di antaranya anak-anak. 

Artinya, sekitar 88 orang meninggal setiap jam!


PETUGAS FARMASI menata obat hasil bantuan dari USAID di lodwar, Kenya, 1 April 2025.-Luis Tato-AFP-

Angka ini berasal dari pemodelan matematis oleh Brooke Nichols dari Boston University. Memang, belum ada penelaahan sejawat. Namun, temuan tersebut sejalan dengan riset lain yang skalanya bahkan lebih mencemaskan.

Penelitian Barcelona Institute for Global Health (ISGlobal) memproyeksikan, lebih dari 22 juta kematian akibat penyebab yang bisa dicegah akan terjadi hingga 2030. Dan itu adalah dampak gabungan pemotongan bantuan AS dan Eropa.

Studi itu, yang akan terbit di The Lancet Global Health, menegaskan bahwa efek kebijakan fiskal di negara maju dapat menjalar menjadi krisis mortalitas di negara miskin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: