Setahun Pemutusan Bantuan Luar Negeri Amerika Serikat, Efek Berantai Bikin Sengsara

Setahun Pemutusan Bantuan Luar Negeri Amerika Serikat, Efek Berantai Bikin Sengsara

SEKUNTUM BUNGA untuk opegawai United States Agency for International Development (USAID) yang baru saja dipecat setelah lembaga itu dibekukan.-Ting Shen-AFP-

Riset lain dari Institute for Health Metrics and Evaluation bahkan memperingatkan potensi 16 juta kematian tambahan anak di bawah lima tahun hingga 2045 jika pemangkasan bersifat permanen.

BACA JUGA:Gagal di Timur Tengah, AS Bidik Amerika Latin

BACA JUGA:Caracas Diguncang Bom! Amerika Serikat Lancarkan Serangan ke Venezuela, Presiden Maduro Ditangkap!

Dari sudut ekonomi pembangunan, kematian massal itu berarti hilangnya modal manusia (human capital). Anak-anak yang meninggal bukan hanya tragedi keluarga, tetapi juga hilangnya tenaga kerja masa depan, produktivitas, dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Negara-negara berkembang dipaksa menanggung biaya sosial yang jauh melampaui nilai bantuan yang dipangkas.

Dampak paling nyata terlihat pada sektor HIV. UNAIDS menyebut pemotongan dana AS sebagai kemunduran terbesar dalam perang melawan HIV selama beberapa dekade.

Pemerintah Trump mengklaim layanan HIV telah dilanjutkan melalui program President's Emergency Plan for AIDS Relief (PEPFAR). Tetapi di lapangan, banyak pasien kehilangan akses terhadap obat antiretroviral yang menyelamatkan nyawa. Impact Counter mencatat lebih dari 170 ribu kematian akibat gangguan pendanaan PEPFAR, termasuk lebih dari 16 ribu bayi.

Survei terhadap 79 organisasi HIV komunitas di 47 negara menunjukkan dampak ekonomi mikro yang jelas: akses terhadap obat pencegah penularan HIV (PrEP) terpangkas setengah di 80 persen organisasi. Artinya, ada peningkatan infeksi baru di masa depan. Artinya lagi, ada biaya kesehatan yang lebih besar, produktivitas yang lebih rendah, dan tekanan fiskal tambahan bagi negara-negara yang sudah rapuh.


DEMONTRAN ditangkap poolisi karena memprotes pemutusan bantuan untuk AIDS di Washinton DC, 5 Maret 2025.-Kevin Diesch-Getty Image via AFP-

Efek domino juga terlihat pada penyakit lain. Lebih dari 48 ribu kematian akibat tuberkulosis telah tercatat. Dan proyeksinya akan melonjak hingga 2,2 juta pada 2030. Puluhan ribu anak meninggal akibat pneumonia, malnutrisi, diare, dan malaria.

Semua itu adalah penyakit berbiaya rendah yang bisa dicegah. Tetapi, biayanya akan melonjak tinggi jika dibiarkan. Baik dari sisi anggaran kesehatan maupun kerugian ekonomi jangka panjang.

Ironisnya, setelah USAID dibubarkan, banyak sistem pencatatan kematian dan penyakit ikut lenyap. Dengan kata lain, kita bahkan mungkin tidak pernah tahu berapa besar kerugian ekonomi sesungguhnya. Seperti dikatakan Caterina Monti dari ISGlobal, sistem yang dulu mencatat data itu “tidak lagi ada”.

Sarah Shaw dari MSI Reproductive Choices menggambarkan bantuan USAID seperti gunung es. Dana obat hanyalah bagian yang terlihat; di bawahnya ada infrastruktur pendukung. 

BACA JUGA:Gagal di Timur Tengah, AS Bidik Amerika Latin

BACA JUGA:Flu Varian Subclade K Merebak di Amerika Serikat, Kasus Melonjak Tajam saat Musim Dingin

Tahun lalu, lembaga-lembaga masih bertahan dari sisa stok di gudang. ’’Tahun lalu, kami berjalan dengan asap tipis. Tahun ini, bahkan asap pun tidak ada,” kata Shaw seperti dikutip kantor berita Agence France-Presse.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: