Amerika Serikat Sheriff Dunia: Ketika Tombstone Bertemu Geopolitik Kontemporer

Amerika Serikat Sheriff Dunia: Ketika Tombstone Bertemu Geopolitik Kontemporer

ILUSTRASI Amerika Serikat Sheriff Dunia: Ketika Tombstone Bertemu Geopolitik Kontemporer.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

SITUASI dunia memunculkan aroma ketegangan ketika menutup 2025 dan membuka 2026, seakan membuka bab baru kisah penuh ironi dan bahaya. Di tengah sunyi Hari Natal, 25 Desember 2025, Presiden Donald Trump memerintahkan serangan ke target yang disebut sarang ”teroris” di Nigeria. 

Langkah itu mengejutkan bukan hanya karena eskalasi militernya, melainkan karena pesan tersirat: dalam logika keamanan global ala Trump, tidak ada hari suci.

Seolah kekagetan itu belum tuntas, pada 2 Januari 2026, ketika gelombang demonstrasi anti pemerintah meningkat di Iran, Trump kembali berbicara dengan nada keras, memperingatkan bahwa Amerika Serikat tidak akan tinggal diam jika para demonstran ditembak. 

BACA JUGA:Satu Presiden Diculik, Satu Kekuasaan Diserahkan: Amerika Serikat dan Seni Mengganti Rezim

BACA JUGA:Tenang, Amerika Serikat Tak Selalu Menang Perang

Dunia belum sempat mencerna ancaman itu ketika pada 3–4 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro dalam sebuah serangan yang mengejutkan dunia serta memicu kecaman dari berbagai negara karena dianggap pelanggaran kedaulatan

Trump dicap sebagai agresor, penjajah gaya baru, teroris, bahkan hakim yang bertindak sepihak di panggung internasional. Namun, pada saat yang sama, tidak sedikit pula yang bersorak. Ada yang merasa dibela, dilindungi, atau dibebaskan dari rezim yang dianggap menindas. 

Dalam satu tarikan napas sejarah, Trump tampil dengan dua wajah sekaligus: ancaman dan harapan serta penjahat dan pahlawan. Dunia pun terbelah, bukan hanya dalam penilaian, melainkan juga dalam cara membaca makna kekuasaan.

BACA JUGA:Tragedi Kemanusiaan di Gaza dan Hipokrisi Barat-Amerika Serikat

BACA JUGA:Amerika Serikat Alami Inflasi Tertinggi, Ekonomi Global Terancam

Menyaksikan sepak terjang Trump, ingatan saya melayang ke film-film koboi tentang Barat yang liar, The Wild West. Salah satu yang paling membekas adalah Tombstone (1993). Film itu dibuka dengan adegan ikonik: empat pria berpakaian hitam, berjas klasik, dan bertopi lebar melangkah pelan di bawah matahari Arizona, senjata tergenggam di tangan. 

Mereka tampak seperti penegak hukum sekaligus algojo moral, datang tidak sekadar membawa aturan, tetapi juga keyakinan bahwa ketertiban harus ditegakkan ketika institusi tak lagi dipercaya.

Dari adegan tersebut, muncullah Wyatt Earp yang diperankan Kurt Russell, seorang sheriff yang percaya pada hukum, tetapi sadar bahwa hukum tanpa kekuatan sering kali hanya ilusi. 

BACA JUGA:Amerika Serikat Serang Situs Nuklir Iran, Donald Trump Langsung Minta Damai

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: