Amerika Serikat Sheriff Dunia: Ketika Tombstone Bertemu Geopolitik Kontemporer
ILUSTRASI Amerika Serikat Sheriff Dunia: Ketika Tombstone Bertemu Geopolitik Kontemporer.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Ini bukan spiritualitas reflektif yang memberikan ruang panjang bagi dialog dan pengampunan, melainkan etos operasional yang meyakini bahwa kejahatan harus dihentikan sebelum menyebar. Dalam kerangka itu, ketegasan dipahami sebagai kebajikan, sedangkan keraguan kerap dibaca sebagai kegagalan moral.
Cara pandang itu tidak lahir semata dari temperamen pribadi Donald Trump, tetapi berakar dalam memori historis Amerika Serikat sendiri. Sejak abad ke-19, gagasan Manifest Destiny membentuk keyakinan bahwa AS ”ditakdirkan” untuk meluas, memimpin, dan membawa tatanan bagi dunia.
Dari sanalah lahir Doktrin Monroe 1823, yang menegaskan bahwa Amerika Latin adalah ”halaman belakang” Amerika Serikat, wilayah yang harus diamankan dari campur tangan kekuatan lain.
Meski zaman telah berubah, warisan doktrin itu tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti bahasa, berganti wajah, dan berganti pembenaran.
Dalam konteks itulah, agresivitas AS di belahan selatan, termasuk Amerika Latin, kerap dibingkai sebagai upaya menjaga stabilitas. Namun, pertanyaan klasik pun kembali mengemuka: stabilitas untuk siapa? Ketertiban demi kemanusiaan ataukah pengamanan kepentingan strategis dan sumber daya alam?
Sejarah kolonialisme Barat meninggalkan satu adagium tua yang tak pernah benar-benar usang: gold, gospel, and glory. Pertanyaannya, apakah ketiganya kini benar-benar ditinggalkan atau sekadar mengenakan kostum baru bernama sumber daya, demokrasi, dan dominasi global dengan karakter yang tetap sama?
Namun, pretext pribadi Trump bertemu konteks global yang rapuh dan terpecah. Dunia pasca-Perang Dingin kehilangan keseimbangan unipolarnya: Tiongkok muncul sebagai pesaing strategis, Rusia menantang tatanan lama, konflik Timur Tengah berlarut tanpa akhir, dan jaringan teroris yang didukung negara beroperasi secara masif dan terstruktur, menimbulkan ancaman nyata bagi stabilitas global.
Di dalam negeri, kelas menengah AS terjepit oleh gelombang globalisasi sehingga kata-kata diplomasi halus terdengar hampa. Di sanalah janji ”Make America Great Again” menemukan momentum, bukan sekadar slogan politik, melainkan juga narasi restorasi –mengembalikan AS sebagai pusat, penentu, dan aktor utama.
Trump membaca dunia ini seperti pebisnis menghadapi pasar kacau: keputusan cepat, tegas, tanpa kompromi panjang, menjadi kunci untuk mempertahankan kendali dan menunjukkan siapa yang benar-benar berkuasa.
Trump, dengan segala kontroversinya, memaksa dunia becermin. Ia menunjukkan bahwa di balik jargon global dan diplomasi elegan, kekuasaan tetap dijalankan oleh manusia dengan naluri, nilai, dan keyakinan personal.
Pertanyaan akhirnya bukan semata apakah Trump benar atau salah, melainkan apakah dunia hari ini masih bisa ditata dengan logika frontier. Apakah sheriff tunggal masih relevan ataukah kita hanya menunda konflik berikutnya?
Seperti Tombstone, dunia hari ini menatap ketidakpastian. Ketika kekuasaan berpijak pada naluri dan keputusan seorang sheriff tunggal, pertanyaan mendesak muncul: apakah tatanan yang ditegakkan benar-benar untuk kestabilan bersama ataukah terselubung kepentingan memanen sumber daya dan dominasi?
Di balik setiap hukum yang ditegakkan, bayang-bayang manusiawi tetap mengintai: ambisi, ketakutan, dan keinginan menguasai. Dunia menunggu jawabannya, apakah kekuasaan digunakan untuk menata atau untuk menaklukkan dan menguras. (*)
*) Daniel Rohi adalah dosen teknik elektro, Universitas Adi Buana, Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: