Anomali Rupiah-Pasar Modal

Anomali Rupiah-Pasar Modal

ILUSTRASI Anomali Rupiah-Pasar Modal.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

DALAM sepekan ini terjadi anomali di pasar uang dan pasar modal. pasar modal sangat bergairah hingga indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus angka psikologis 9.000. Namun, tak seperti biasanya, rupiah justru terpuruk. Hampir menyentuh level psikologis Rp 17.000 per dolar AS.

Ini fenomena baru hubungan pasar modal dan rupiah. Normalnya, investor asing masuk ke pasar modal sehingga pasar saham dan obligasi  bergairah. IHSG naik. Di sisi lain, masuknya investor asing membuat pasar dibanjiri dolar yang mengakibatkan rupiah menguat.

Jika kita cermati, ternyata anomali ini bukan kali ini saja terjadi. Bisa dikatakan, anomalinya sepanjang tahun 2025 hingga sekarang. Jika biasanya korelasi antara pasar modal (IHSG) dan rupiah positif, kali ini hubungannya negatif. Artinya, indeks dan rupiah bergerak sebaliknya: IHSG naik dan rupiah turun.  

BACA JUGA:Nilai Tukar Rupiah Nyaris Sentuh Rp17 Ribu Per Dolar AS, Ini Dampaknya

BACA JUGA:Ini Penyebab Rupiah Melemah ke Rp16.800 per Dolar AS

Dalam satu tahun terakhir, IHSG naik cukup signifikan, 26,8%. Sementara rupiah justru melemah 3,7%. Ini berarti, IHSG berkorelasi negatif dengan rupiah. Penguatan pasar modal justru akan diikuti dengan pelemahan rupiah. Bukan sejaliknya seperti fenomena yang terjadi bertahun-tahun. 

Kenaikan IHSG dalam setahun ini pun cukup tinggi. Jauh lebih tinggi daripada  New York Stock Exchange yang hanya naik 14,78%, KLCI 10,29% dan PSE 13,64%. Kenaikan IHSG mendekati bursa Shanghai dan STI, namun masih di bawah indeks Nikkei Jepang (32,01%).

Dulu, korelasi pasar modal dan rupiah cenderung positif. Pasar modal bergairah, indeks naik sementara rupiah menguat. Kondisi seperti ini biasa terjadi pada emerging market. Indeks menguat menimbulkan capital inflow sehingga nilai tukar rupiah menguat. 

BACA JUGA:Redenominasi Rupiah, demi Gengsi atau Jalan Pintas Stabilitas Moneter?

BACA JUGA:5 Alasan Redenominasi Rupiah, Rp1.000 Jadi Rp.1, Ditarget Rampung 2027

Begitu sebaliknya, saat pasar lesu, indeks turun, maka ini memicu capital outflow karena investor asing menjual sahamnya lalu mengonversinya ke dolar. Permintaan dolar meningkat, rupiah pun melemah. Pada pasar seperti ini, capital outflow dan inflow sangat mempengaruhi indeks, karena pasar didominasi oleh kepemilikan dan transaksi asing. 

Mengapa kali ini berbeda? Fenomena seperti saat ini, di mana korelasi pasar  modal dan nilai tukar positif biasanya terjadi pada negara yang sangat mengandalkan ekspor. Pelemahan nilai tukar  menyebabkan ekspor semakin besar sehingga indeks saham  pun menguat. Begitu juga sebaliknya. Ini seperti yang terjadi di Korea Selatan dan Tiongkok. 

Lalu, apakah Indonesia mirip kedua negara itu? Jika iya, maka ini harus menjadi perhatian serius. Sebab, kenyataannya, ekonomi Indonesia tidak seperti Korea dan Tiongkok. Bisa jadi, keadaan ini terjadi karena ada ketidak beresan dengan bursa kita.

BACA JUGA:Rekor Pasar Modal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: