GREAT Institute: Keputusan Prabowo di Davos Sudah Benar
PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO bersalaman dengan Presiden Amerika Donald Trump.--
“Untuk Hamas istilah yang digunakan adalah meletakkan senjata, sementara untuk Israel menarik diri. Kenapa? Karena Gaza bukan milik Israel,” jelas Teguh.
Ia menambahkan bahwa rencana tersebut juga menegaskan warga Gaza tidak akan diusir secara paksa dari tanah mereka. Karena itu, Teguh menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto konsisten dengan sikap Indonesia dalam memperjuangkan perdamaian Palestina.
Pada bagian lain, Teguh menegaskan isu Gaza bukan lagi persoalan penentuan nasib sendiri atau self determination. Palestina, menurutnya, telah diakui sebagai negara berdaulat dengan status observer state di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Palestina ini adalah negara yang berdaulat, maka ia punya bendera di Markas PBB dan statusnya observer state,” ujarnya.
Ia juga menyebut isu Palestina tidak pernah dibahas dalam Komisi IV PBB yang menangani wilayah non-self governing territories. Berdasarkan pengalamannya sebagai petisioner isu Sahara Barat, Teguh menilai Board of Peace merupakan ikhtiar kolektif masyarakat internasional.
“Saya melihat Board of Peace ini sebagai suatu ikhtiar. Bukan ikhtiar Donald Trump. Setelah proposal itu diadopsi DK PBB, maka ini menjadi ikhtiar kita bersama,” pungkasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: