Negosiasi Tarif Indonesia–AS Masuk Tahap Akhir, Tinggal Tunggu Jadwal Prabowo–Trump

Negosiasi Tarif Indonesia–AS Masuk Tahap Akhir, Tinggal Tunggu Jadwal Prabowo–Trump

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan, negosiasi dengan Amerika sudah selesai dan memasuki tahap fine tuning di legal drafting.--Istimewa

JAKARTA, HARIAN DISWAY - Negosiasi tarif antara Indonesia dengan Amerika Serikat sudah mencapai di tahap akhir.

Sekarang, kedua pihak fokus merapikan posisi hukum sebelum akhirnya penandatanganan kesepakatan dilakukan. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa proses peryempurnaan redaksi hukum atau legal drafting.

"Berikutnya tinggal nunggu jadwal yang akan ditentukan, jadwal antara Bapak Presiden Prabowo dan Presiden Trump," ucapnya pada Selasa, 3 Februari 2026.

BACA JUGA:Prabowo Panggil Ormas Islam ke Istana, Bahas Keanggotaan Indonesia di BoP Bentukan Trump

BACA JUGA:SRO, OJK dan Danantara Bertemu dengan MSCI, Ini Hasil Kesepakatannya!

Namun, hasil kesepakatan tersebut belum dapat dipublikasikan oleh Indonesia. Ia menyebutkan informasi resmi masih ditahan untuk sementara waktu.

Terkait penyesuaian jadwal, Airlangga menjelaskan penundaan terjadi karena adanya agenda penandatanganan Board of Peace sebelumnya.

Mantan pimpinan Partai Golkar itu menegaskan perjanjian ini berdiri sendiri dan tidak berkaitan dengan Board of Peace yang digagas Trump.

Meski begitu, ia mengakui isu perdamaian tetap menjadi fokus utama Presiden.

BACA JUGA:Board of Peace Bikinan Trump Cuma Berbasis Solusi Bisnis di Gaza, Ini 6 Rekomendasi Dino Patti Djalal!

BACA JUGA:Board of Peace di Bawah Kendali Trump, Dino Patti Djalal Beri 4 'Lampu Kuning' untuk Keanggotaan Indonesia

"Nanti eksekutif order bagi Amerika juga dilaporkan ke kongres, bagi Indonesia kita sampaikan ke DPR," tegas Airlangga.

Menurut Airlangga, penandatanganan kesepakatan tarif dagang akan diikuti kewajiban tiap pemerintah untuk menyampaikan laporan hasil perjanjian tersebut kepada lembaga legislatif masing-masing.

Walau rincian kesepakatan dagang belum disampaikan Airlangga, pemerintah Indonesia membidik tarif nol persen untuk sejumlah komoditas hortikultura yang diekspor ke Amerika Serikat.

Target tersebut berasal dari tarif resiprokal berupa bea masuk yang diumumkan Trump saat Liberation Day, semula dipatok 32 persen lalu diturunkan menjadi 19 persen.

BACA JUGA:Trump Dilaporkan Patok Biaya Pendaftaran Rp 16,9 T Bagi Negara yang Ingin Masuk Dewan Perdamaian Gaza

BACA JUGA:Daftar Negara Bergabung dan Menolak Dewan Perdamaian Gaza Gagasan Trump

Sejumlah sektor disebut memiliki peluang memperoleh tarif nol persen, mulai dari kelapa sawit, kakao, produk agro, hingga mineral. Termasuk komponen pesawat dan industri tertentu, khususnya yang berasal dari kawasan perdagangan bebas atau FTZ.

Di sisi lain, Amerika Serikat mengajukan permintaan agar dari total sekitar 11.552 kode klasifikasi barang impor, sebanyak kurang lebih 11.474 kode HS dikenakan tarif 0 persen.

Permintaan itu berarti lebih dari 98 persen barang impor yang masuk ke Indonesia diharapkan bebas bea masuk.

Selain penghapusan tarif, AS juga menginginkan prinsip timbal balik berupa akses terhadap mineral kritis dari Indonesia.

Permintaan tersebut sejalan dengan pembebasan tarif resiprokal Indonesia ke AS untuk komoditas kelapa sawit, kopi, kakao, dan teh.

(*) Abidah Hayu Anggonoraras peserta magang dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: disway.id