Kasus Bunuh Diri Bocah SD di NTT, Gubernur Kecam Pemkab Ngada yang Lamban: Belum Ada Perwakilan yang Datangi Pihak Keluarga

Kasus Bunuh Diri Bocah SD di NTT, Gubernur Kecam Pemkab Ngada yang Lamban: Belum Ada Perwakilan yang Datangi Pihak Keluarga

GUBERNUR NTT Emanuel Melkiades Laka Lena berpedoman pada prinsip zhi xing he yi tentang menyatukan pemikiran dan perbuatan.--Dokumentasi Pribadi

HARIAN DISWAY -  Kepergian siswa kelas IV di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT)  pada Kamis, 29 Januari 2026, memantik perhatian serius Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena.

Dia secara tegas menegur Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ngada atas peristiwa yang merenggut nyawa anak di usia belia tersebut.

Melki menyampaikan tegurannya dalam pertemuan di Universitas Citra Bangsa pada Rabu, 4 Januari 2026. Ia menilai bahwa kasus ini tak boleh dianggap biasa.

“Sebagai pemerintah, kita gagal urus warga negara kalau model begini,” tegas Melki.

Ia juga mengeluhkan lambannya respons pimpinan daerah dalam menanggapi laporan awal terkait peristiwa tersebut. Hingga akhirnya, ia memilih mengirim orang-orangnya sendiri ke lokasi untuk memastikan langsung apa yang sebenarnya terjadi.

BACA JUGA:Tragedi Anak Bunuh Diri di NTT, Wamendikdasmen: Alarm Serius soal Perlindungan Anak dan Kesejahteraan Psikososial

BACA JUGA:Kasus Anak SD Bunuh Diri di NTT, DPR RI Panggil Mendikdasmen dan Minta Polisi Transparan

“Saya WA pimpinan daerahnya lama sekali kasih respons. Akhirnya saya minta orang saya sendiri turun pergi cek. Mungkin ini sudah biasa ada orang mati kali itu di daerahnya,” ucap Melki.

Menurutnya, hal ini menjadi alarm pengingat bagi pemerintah setempat agar lebih serius menangani kasus serupa, terlebih lagi perihal kemiskinan. Ia menilai bahwa kasus seperti ini merupakan wujud dari kegagalan pranata dan pemerintah.

“Pemerintah kita juga gagal, provinsi sama, Kabupaten Ngada juga sama,” tegas Melki.

“Kita punya pranata agama juga gagal, pranata budaya juga gagal sampai ada orang mati karena miskin begini,” sambungnya.

BACA JUGA:Kasus Kematian Bocah 9 Tahun di Cilegon Masih Misterius, Polisi Periksa Politikus PKS

BACA JUGA:Dalami Kematian Mahasiswi UMM di Purwosari Pasuruan, Polda Jatim Amankan Anggota Polres Probolinggo

Penegasan lainnya juga ia ungkapkan sebab belum adanya Pemerintah daerah yang pergi melayat ke rumah duka. Sebagai penghormatan kepada korban dan keluarga, Melki meminta Pemerintah daerah Ngada untuk datang dan mengungkapkan belasungkawa kepada keluarga korban.

“Kita gagal Pak Sekda, turunkan orang, harus kesana. Kuburannya tidak boleh pakai tanah, kuburkan dia dengan layak,” pungkas Melki.(*)

*) Peserta Magang dari Universitas Negeri Surabaya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: