Cerita dari Rusia (3-Habis): Murah Senyum Dikira Ngobat
Pintu gerbang All-Russian Exhibition Center di Moskow, Rusia.-Probo Darono Yakti-
Seperti Menara Penebus, Basilika St. Petrus, dan Mausoleum Lenin. Menara Penebus adalah salah satu menara pintu masuk ke areal terbatas di Lapangan Merah.
Saat itu pukul 24.00. Jam berdentang dengan cukup keras. Selain itu, terdapat gereja “kubah bawang” basilika St. Petrus. Berada tepat di seberang Menara Penebus. Bangunan itu sangat indah.
BACA JUGA:Tiga Ibu Kota Kuno di Jalur Sungai Kuning: Menyusuri Jejak Peradaban Tiongkok dari Shang hingga Song
BACA JUGA:Hong Kong WinterFest, Sambut Musim Dingin, Seluruh Kota jadi Taman Bermain Raksasa
Dilengkapi dengan ornamen luar yang berwarna-warni. Semakin menawan di tengah gemerlap malam Moskow yang syahdu.
Kota itu tak pernah sepi meskipun sudah larut. Saat itu, di tengah Lapangan Merah berlangsung ice skate rink. Suasana cukup ramai. Ditambah dengan pasar malam.

Patung Vladimir Lenin di Lapangan Merah, Moskow, Rusia.-@jerome_mfotos-Instagram
Ada cerita menarik dan menjengkelkan saat di Moskow. Ceritanya, kami menghampiri sebuah kedai. Sebagai orang Indonesia, saya membawa karakter orang negeri saya: murah senyum.
Tapi kekhasan itu justru dipandang penuh curiga. Belum sampai membuka pintu kedai, pemiliknya langsung menyorongkan telapak tangan. Menyuruh saya berhenti. Lalu ia berbincang sejenak dengan Vladimir.
BACA JUGA:MINGYU dan VERNON SEVENTEEN Jelajahi Pesona Malam Pelabuhan Hong Kong
BACA JUGA:Jelajah Hong Kong bersama HKTB (20-Habis): Pentas Magis The Most Magical Party of All
Kemudian Vlad menghampiri dan berbisik, "Kita cari kedai lain. Jangan di sini," katanya. Pemilik kedai itu berkata dengan sedikit keras pada saya, "I'am sorry, bro!"
Kami berjalan dengan sedikit bergegas. Saya tanya alasannya. Vlad menjawab, "Di Rusia ini, orang-orang pelit senyum. Karena dalam budaya kami, orang yang murah senyum dicurigai sedang berada dalam pengaruh obat terlarang."
Saya menepuk jidat. Shock culture. Bisa-bisanya... Orang murah senyum kok disangka ngobat.
Tapi sudahlah. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Itu memang budaya mereka. Saya menghormatinya. Saya pun mulai belajar untuk tidak tersenyum saat berada di Moskow.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: harian disway