HMI untuk Indonesia Mandiri dan Berdaulat: Refleksi Milad Ke-79 HMI (5 Februari 1947–5 Februari 2026)
ILUSTRASI HMI untuk Indonesia Mandiri dan Berdaulat: Refleksi Milad Ke-79 HMI (5 Februari 1947–5 Februari 2026).-Arya/AI-Harian Disway-
PADA 5 Februari 1947 ada salah satu peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan organisasi mahasiswa Islam di Indonesia. Peristiwa tersebut menjadi salah satu embrio paling penting dalam sejarah lahirnya Mahasiswa Islam Indonesia (HMI). Organsasi yang memiliki komitmen gerakan keindonesiaan dan keumatan.
Organisasi itu lahir melalui proses dialektika pemikiran yang terus berinteraksi dengan realitas politik yang cukup panjang dan penuh rintangan dan tantangan. Adalah seorang pemuda 25 tahun, Lafran Pane, yang cukup berani dan memiliki visi ke depan.
Ia bersama mahasiswa lainnya menginisiasi berdirinya HMI. HMI didirikan untuk berkontribusi terhadap negeri ini melalui visi pembinaan menjadi insan akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernapaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridai Allah SWT.
BACA JUGA:HMI Jakarta Raya Laporkan Dugaan Fraud Kredit Rp700 Miliar Bank Syariah M ke Bareskrim
BACA JUGA:Kader HMI Wajib Nonton, Film Lafran Angkat Perjuangan Pendiri Organisasi HMI Lafran Pane
Dari rahim HMI itulah, telah banyak lahir tokoh HMI yang mewarnai perjalanan sejarah dan kamajuan negeri ini. HMI konsisten berkhidmat untuk negara, bangsa, dan agama. Kini usia organisasi mahasiwa Islam itu telah memasuki 79 tahun. Sebuah usia yang sudah penuh dengan kematangan. Matang secara spiritualitas, pemikiran, dan gerakan.
Di hari miladnya yang ke-79, diharapakan semua kader umat, bangsa, dan peradaban ini, khususnya para pemuda-pemudi Islam/kader HMI, melakukan refleksi dan revitalisasi semangat nasionalisme dan spiritualisme untuk kebangkitan baru menuju peradaban bangsa yang lebih maju, mandiri, dan berdaulat.
Tema yang diusung pada milad kali ini adalah HMI untuk Kedaulatan Bangsa. Tema itu sangat relevan untuk menegaskan spirit dan aksi HMI untuk kemajuan dan peradaban bangsa, negara, dan agama dengan dilandasi spiritualisme Islam dan nasionalisme yang kokoh.
BACA JUGA:Mengapa KAHMI Forever Jalan Sehat (KFJS) Digelar di Ponorogo?
BACA JUGA:12 dari 120 Legislator DPRD Jatim, Anggota KAHMI
Saat ini Indonesia memiliki potensi bonus demografi yang dapat berkontribusi bagi kemajuan dan kemandirian bangsa. Struktur umur penduduk, yakni proporsi usia kerja lebih besar daripada proporsi bukan usia kerja, akan berpengaruh pada potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan berkualitas.
Berdasar hasil temuan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2021, Indonesia telah memasuki era bonus demografi. Sebab, usia produktif (15–64 tahun) mendominasi jumlah penduduk di dalam negeri.
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Badan Pusat Statistik 2021 menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia per September 2020 sebanyak 270,20 juta jiwa atau bertambah 32,56 juta jiwa dari survei penduduk 2010.
Dari survei tersebut terungkap, penduduk Indonesia didominasi usia produktif (15–64 tahun) dengan jumlah mencapai 191,08 juta jiwa (70,72 persen). Jumlah itu jauh melampaui jumlah penduduk usia muda (0–14 tahun) sebanyak 63,03 juta jiwa (23,33 persen) dan penduduk lanjut usia (65 tahun ke atas) sebanyak 16,07 juta jiwa (5,95 persen).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: