Saat Hutan Menjauh dari Rakyat, Bencana yang Mendekat: Sedhakep Angawe-awe
ILUSTRASI Saat Hutan Menjauh dari Rakyat, Bencana yang Mendekat: Sedhakep Angawe-awe.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Akar masalahnya adalah hegemoni pengetahuan. Kita terlalu mendewakan angka-angka dari satelit dan laporan di atas meja, tetapi kita sering kali tuli terhadap kearifan lokal yang telah teruji zaman.
Padahal, bagi masyarakat di kaki gunung atau di pesisir, hutan bukan sekadar deretan ”tegakan pohon” yang siap diuangkan atau dipanen kayunya.
Hutan adalah identitas, ruang hidup, bahkan apa yang kita sebut sebagai ”modal alam kritis” (critical natural capital) yang tak pernah bisa digantikan oleh tumpukan uang triliunan.
Dalam buku saya, Sedhakep Angawe-awe (2026), saya membedah fenomena pencurian kayu jati di hutan-hutan Jawa. Bagi kacamata hukum formal, itu adalah kriminalitas murni. Namun, bagi antropolog, itu adalah jeritan perlawanan simbolis.
Rakyat merasa menjadi ”asing” di rumah sendiri. Ketika rakyat merasa bukan lagi pemilik, mereka tak lagi memiliki ikatan batin untuk menjaga. Maka, jaringan sosial, yang dahulu berfungsi sebagai benteng penjaga hutan, perlahan bermutasi menjadi jaringan eksploitasi yang merusak. Itulah dampak antropologis yang gagal dibaca para pembuat kebijakan.
DAMPAK ”RIMBA BETON” TERHADAP ”KANOPI JAWA”
Kita sedang menyaksikan sebuah transformasi yang mengerikan: hilangnya ”Kanopi Jawa” demi ambisi membangun ”Rimba Beton”. Pembangunan sering kali dipandang sebagai proses pengubahan lahan hijau menjadi infrastruktur fisik. Memang, statistik PDB mungkin naik, tetapi ketahanan ekologis kita merosot tajam.
Data menunjukkan, Indonesia kehilangan 10,5 juta hektare hutan primer dalam dua dekade terakhir. Kita bahkan menyumbang hampir 60 persen deforestasi akibat pertambangan di seluruh dunia.
Apakah itu yang kita banggakan sebagai kemajuan? Catatan dari CELIOS menyebutkan bahwa kerugian ekonomi akibat bencana di awal tahun ini saja mencapai angka fantastis, yakni Rp68,67 triliun.
Angka itu jauh melampaui dividen yang diterima negara dari hasil mengeruk perut bumi atau menebang hutan. Kita sedang melakukan bisnis yang sangat merugi: mengorbankan nyawa dan masa depan demi keuntungan sesaat.
EKOLOGI SEBAGAI PANGLIMA: BELAJAR DARI DUNIA
Di hadapan forum BRIN, saya mendesak satu pergeseran radikal: jadikan ekologi sebagai panglima (ecological primacy).
Selama puluhan tahun, ekonomi selalu menjadi panglima tunggal. Segala hal dikorbankan demi angka pertumbuhan. Padahal, ekonomi hanyalah subsistem dari lingkungan hidup. Tanpa ekosistem yang sehat, sistem ekonomi mana pun akan kolaps.
Kita perlu memiliki keberanian politik untuk mengubah pola penanganan bencana dari yang bersifat reaktif –hanya sibuk memberikan bantuan setelah jatuh korban– menjadi preventif-sistemik.
Dunia sudah memberikan contoh. Kita bisa menengok Bhutan yang mengunci minimal 60 persen wilayahnya sebagai hutan dalam konstitusi mereka. Mereka sukses karena menempatkan kebahagiaan rakyat dan kelestarian alam di atas sekadar angka PDB.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: