Kisah Dokter Rosa, Pengemudi Grab yang Tolong Persalinan Penumpangnya (2-habis): Nge-Grab Jadi Ruang Refleksi

Kisah Dokter Rosa, Pengemudi Grab yang Tolong Persalinan Penumpangnya (2-habis): Nge-Grab Jadi Ruang Refleksi

DOKTER PPDS Uniersitas Airlangga, ROsa, memutuskan menjadi pengemudi taksi online sejak Oktober 2025.-Narasumber untuk Harian Disway-

Ada beberapa faktor yang membuat dia turun ke jalan menjadi pengemudi taksi online. Salah satunya soal waktu yang senggang karena penelitian yang molor. Tapi, jangan cepat menyimpulkan…

ROSA sudah biasa memutar setir. Dia sudah mempelajari itu sejak SMP. Kelas delapan.

Sebab, dia kerap membantu mengantarkan bahan bangunan di Pare, Kediri. Ya, dulu orang tuanya punya toko bangunan. Risa sering disuruh membantu mengirim barang. 

Kini, dia tak lagi mengangkut semen atau besi. Dia mengangkut penumpang dan pada akhirnya membantu persalinan.

"Aku suka nyetir. Memang dari dulu suka jalan-jalan. Jadi, daripada keliling ngabisin bensin, mending sekalian narik. Biar dapat cuan buat jajan anak-anak," ujarnya ringan. 

BACA JUGA:Kisah Dokter Rossa, Pengemudi Grab yang Tolong Persalinan Penumpangnya (1): Nonik, Aku Mau Melahirkan!

Rosa ditemui Harian Disway saat menjemput anaknya. Ya, Rosa adalah ibu dari dua anak. Yang bungsu sedang menimba ilmu sepak bola di Persebaya Academy. Dengan sedikit bujukan, Rosa mau diwawancarai.

Perawakan Rosa lembut. Khas seorang ibu. 

Perempuan itu adalah dokter umum Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari Kalimantan Tengah. Sejak 2021, Rosa menempuh spesialis penyakit dalam di Universitas Airlangga (Unair). Seharusnya dia lulus pada Agustus 2025, tapi penelitiannya tersendat. 

Rosa mengambil tema penelitian tentang HIV/AIDS. Lebih spesifiknya tentang penyakit dan pemulihannya di RSUD Dr. Soetomo. Kata Rosa, penelitiannya molor bukan karena kesulitan akademi. Tapi ada pergulatan personal yang rumit. "Ini yang enggak bisa dibanggakan dari aku. Molornya memang karena aku sendiri," aku Rosa. 

Dengan KRS wajib yang sudah habis, waktu luangnya melimpah. Di situlah aplikasi taksi online jadi pelarian sekaligus ruang refleksi. Bukan semata karena kendala finansial.


DOKTER ROSA ketika menemui penumpangnya, Sirka, dan bayi yang dilahirkan di dalam mobil, Selasa, 20 Januari 2026.-Narasumber untuk Harian Disway-

Rosa berkisah kalau remunerasi PPDS hanya Rp1,3–1,5 juta sebulan. Menurutnya, itu tak cukup untuk dua anak yang tengah bersekolah di SD Kristen Gloria 3, Surabaya

Tapi, Rosa tak mengeluh soal itu. Dia memilih bergabung dengan mitra pengemudi murni karena dia senang jalan-jalan. Senang bertemu banyak orang. "Aku banyak merenungkan dari banyak penumpang. Semua membawa nilai untuk renungan hidupku," kata Rosa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: