Talkshow Stand Together, Facing Cancer: Terapi Kanker Kian Canggih, Skrining Bisa Deteksi Gejala Awal

Talkshow Stand Together, Facing Cancer: Terapi Kanker Kian Canggih, Skrining Bisa Deteksi Gejala Awal

INTERACTIVE TALKSHOW Stand Together, Facing Cancer bersama Prayudi Tetanto, dokter spesialis paru Adi Husada Cancer Center, pada Jumat, 13 Februari 2026.-Najwa Rana-Harian Disway

Sampai saat ini, kanker paru tercatat sebagai yang paling mematikan di Indonesia. Sedangkan, jumlah pengidapnya adalah nomor dua terbesar setelah kanker payudara.

Menurut Prayudi, salah satu persoalan utama lethal-nya kanker paru adalah minimnya kesadaran skrining. Banyak orang merasa sehat karena tidak ada keluhan, padahal kanker paru stadium awal memang tidak bergejala.

Batuk lama, nyeri dada, sesak napas, atau penurunan berat badan biasanya muncul ketika tumor sudah membesar dan mendesak jaringan sekitar.

BACA JUGA:Pasar Turi Baru Surabaya Gelar Seminar Hari Kanker Sedunia, Peserta Antusias Bertanya

BACA JUGA:Nanopartikel Magnetik Jadi Terobosan Terapi Kanker Tulang dan Regenerasi Tulang

“Skrining itu pencegahan yang paling bagus. Kalau belum ada gejala, pendeteksiannya lewat skrining. Jangan tunggu sakit dulu,” katanya.

Ia juga meluruskan pemahaman soal metode pemeriksaan kanker. Rontgen dada, menurutnya, hanya bisa mendeteksi benjolan berukuran relatif besar.

Untuk kelompok berisiko tinggi, pemeriksaan yang direkomendasikan adalah CT scan dosis rendah atau low-dose computed tomography (LDCT).

Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) menyebutkan bahwa hingga periode 2024-2025, tercatat sekitar 38.904 kasus baru kanker paru di Indonesia setiap tahunnya. Itu artinya, ada 100 diagnosis baru setiap harinya.

BACA JUGA:Jessie J Bagikan Pesan Akhir Tahun yang Menyentuh Terkait Kanker Payudara

BACA JUGA:Deteksi Dini Kanker Serviks Gratis di Masjid Cheng Hoo, Bantu Selamatkan Banyak Nyawa

Kondisi itu mendorong para pakar kanker dan teknologi terus berinovasi. Khususnya, dalam mengembangkan terapi kanker.

Jumat pagi itu, Prayudi mengatakan bahwa kanker paru bukan lagi vonis mati seperti anggapan lama. Selain kemoterapi, kini tersedia terapi target, imunoterapi, radioterapi, hingga tindakan pembedahan untuk stadium awal.

“Kita beruntung hidup di tahun 2026. Modalitas untuk melawan kanker itu banyak senjatanya. Bukan cuma kemoterapi,” ujarnya.

Terapi target, jelasnya, bekerja dengan menghambat pertumbuhan sel kanker secara spesifik dan umumnya memiliki efek samping lebih ringan dibandingkan kemoterapi konvensional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: