Solo is Solo: Pasar Malam Jujukan Gen Z yang Sarat Barang, Jasa, dan Hobi

Solo is Solo: Pasar Malam Jujukan Gen Z yang Sarat Barang, Jasa, dan Hobi

ERLANGGA ADJI LAKSONO (kiri) dan teman-temannya yang menjaga stan di Solo is Solo memamerkan kartu Get 2 Know pada Sabtu, 31 Januari 2026.-Ilmi Bening-Harian Disway

Solo is Solo menjadi ruang publik yang ramah bagi masyarakat. Dikonsep seperti pasar malam, event rutin akhir pekan itu digemari Gen Z. Sebagian sekadar jalan-jalan dan hang out di sana, sebagian berwirausaha.

LAPAK pedagang kaki lima berjejer di Jalan Gatot Subroto pada Sabtu malam, 31 Januari 2026, itu. Musik beragam genre membaur di area outdoor yang ramai pengunjung itu. Tiap Jumat-Sabtu pukul 18.00-24.00 WIB, ruang publik itu menjadi kawasan ekonomi kreatif. 

Barang-barang kerajinan dan kuliner Solo mendominasi area tersebut. Namun, ada pula “panggung” seni yang menyuguhkan nyanyian dan tarian. Ada pula photo box yang tentu saja menjadi jujukan para remaja. 

Karena letaknya yang strategis, Solo is Solo pun bisa dipandangi dari kafe-kafe di sekitarnya. Banyak anak muda yang nongkrong di kafe dekat lokasi pasar malam agar bisa menikmati vibes Solo is Solo

BACA JUGA:Wyndham Surabaya Angkat Konsep Pasar Malam Nusantara untuk Iftar Ramadan 2026

BACA JUGA:Pasar Malam Asia, Holding Company Warisan Leluhur

Dari banyak stan yang berjejer di sana, Harian Disway tertarik pada stan Get 2 Know. Ada photo box gratis yang dilengkapi aksesoris cantik di sana. Namun, yang paling menarik adalah kartu mengobrol yang dijual di stan tersebut. 

“Dialog atau pertanyaan dalam kartu-kartu tersebut dirancang untuk memantik diskusi dan deep talk,” ungkap Erlangga Adji Laksono. Mahasiswa DKV semester 8 Universitas Sebelas Maret (UNS) itu bertugas menjaga stan pada Sabtu malam itu. 


KARTU Get 2 Know dibuat untuk memantik percakapan bersama keluarga atau teman. Ada dua bahasa, Inggris dan Indonesia.-Ilmi Bening-Harian Disway

Kartu mengobrol terdiri dari empat topik pembahasan. Yakni, keluarga, pasangan, teman, dan masa kehidupan. Kartu itu tersedia dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Lewat kartu itu, diharapkan pasangan, teman, atau hubungan saudara jadi makin akrab dan tidak canggung.

Tentu saja, dengan permainan kartu, semua yang terlibat bisa sejenak berpaling dari ponsel masing-masing. Dalam setiap kategorinya, kartu itu berisi 25 lembar dengan pertanyaan yang berbeda-beda.

BACA JUGA:Rayakan Kemerdekaan, ARTOTEL TS Suites Surabaya Hadirkan Pasar Malam Kekinian Dukung UMKM Lokal

BACA JUGA:Pasar Malam Darmo di Mercure Surabaya Grand Mirama, Menikmati Cita Rasa Jalanan di Jantung Surabaya

Pertanyaannya, antara lain adalah cara menjaga hubungan jarak jauh, definisi bahagia, dan cara menggambarkan anggota keluarga dalam bentuk makanan. 

Elang, sapaan akrab Erlangga, mengatakan bahwa Get 2 Know adalah kreasi sekelompok mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) . Tiap waktunya Solo is Solo, ia dan empat kawannya bergiliran jaga stan. 

“Kami biasanya membuka gerai di Solo is Solo setiap Sabtu malam, selama tidak ada urusan lain yang mendesak,” ujarnya. Jika rutin membuka lapak, dalam sebulan mereka bisa meraup pendapatan Rp 1 juta rupiah.

Bagi Elang dan teman-temannya, kartu buatan mereka itu adalah penghasilan tambahan. Namun, bagi Gen Z yang menjadi konsumennya, kartu itu adalah kunci. Itu diakui Livia Nur Azizah yang berasal dari Banjarsari.

BACA JUGA:Pasar Malam HUT ke-2 The Southern Hotel Surabaya, Usung Semangat Growing Twogether

BACA JUGA:Refreshing di Pasar Malam, Aneka Wahana dan Pameran UKM di Unesa Ramadan Carnival

“Terkadang acara berkumpul bersama saudara di keluarga besar rasanya kurang seru karena sibuk dengan ponsel masing-masing. Jadi, saya ingin coba pakai kartu ini untuk berbincang bersama saat Minggu,” kata gadis 18 tahun itu. 


REMAJA dan perempuan-perempuan muda antusias melihat pernik-pernik di krusty.beads pada Sabtu malam, 31 Januari 2026.-Ilmi Bening-Harian Disway

Selain Get 2 Know, stan lain yang dikerubungi anak-anak muda adalah lapak aksesoris bernama krusty.beads. Pernik-pernik cantik yang berkilauan itu memanggil para pengunjung perempuan. “Desain gelangnya lucu dan menarik. Ukurannya bisa request sendiri, pas sekali di tangan saya,” kata Dinda Sekar Ayu, 17, asal Laweyan.

Afifah Nur Aini berjaga di stan aksesoris itu. Bentuk manik-manik bunga dan kupu-kupu dipakainya untuk menambah estetika. Selain gelang, Afifah juga menjual kalung, gantungan kunci akrilik, gantungan kunci rajut, dan lain-lain. 

“Untuk gelang custom, bisa dibikin langsung dan harus kami ukur sesuai dengan pergelangan tangannya. Proses merangkainya butuh waktu sekitar 20 menit saja,” terang Afifah. 

BACA JUGA:Ludruk Luntas Marakkan Pasar Malam Tjap Toendjoengan dengan Lakon Jas Riyoyo

BACA JUGA:Anti Bingung! 6 Rekomendasi Jajanan Viral dan Enak di Pasar Malam Kodam Brawijaya


HAMSTER banyak diburu pengunjung Solo is Solo karena lucu dan mudah perawatannya.-Ilmi Bening-Harian Disway

Solo is Solo juga menjadi oase bagi Tsaqifa Icha. Perempuan 20 tahun itu memenuhi hasratnya untuk memelihara hamster setelah berkunjung ke pasar malam itu. “Tadi sempat salah fokus waktu lewat hewan imut ini. Jadi, saya ingin coba rawat di rumah,” katanya.

Andre Saputra, pemilik bisnis Coco & Cici hamster itu mengatakan bahwa selama event Solo is Solo, kebanyakan pengunjung tertarik pada hamster karena wujudnya yang menggemaskan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: