Masih Panas Knetz versus SEAblings, Ketegangan Netizen Korea dan Asia Tenggara yang Dipicu Kamera Pro
Perang di X antara netizen asia tenggara dan netizen korea semakin memanas. --The Rakyat Post
HARIAN DISWAY — Dunia maya kembali memperlihatkan wajah gelap globalisasi budaya. Dalam beberapa pekan terakhir, perdebatan panas antara netizen Korea Selatan (Knetz) dan masyarakat Asia Tenggara (SEAblings) viral di platform X, TikTok, dan forum komunitas global.
Peristiwa ini bukan sekadar konflik komentar daring biasa. Polemik ini cerminan ketegangan sosial, stereotip rasial, dan benturan identitas budaya yang telah lama tersembunyi di balik popularitas budaya pop Korea.
Bagaimana ini terjadi? Gelombang bermula dari insiden kecil dalam sebuah konser K‑pop di Malaysia. Seorang penggemar asal Korea Selatan dilaporkan membawa kamera profesional yang melanggar aturan acara.
Teguran dari penonton lokal memicu adu argumen yang kemudian berpindah ke media sosial. Dalam hitungan jam, perdebatan tersebut menjadi serangan komentar bernada rasial yang menyinggung fisik, warna kulit, dan status sosial masyarakat Asia Tenggara.
BACA JUGA:Deretan Konser K-Pop di Indonesia 2026: dari Riize hingga Treasure, Ini Jadwal Lengkapnya!
BACA JUGA:10 Konser K-Pop dengan Pendapatan Tertinggi 2023, Ada BLACKPINK hingga Suga BTS

DAY6 menggelar konser di Kuala Lumpur, Malaysia. Pelanggaran yang dilakukan salah seorang penonton memicu ketegangan Knetz dan SEAblings. --dbkpop
Panasnya perdebatan memunculkan dua kutub netizen. Yakni, Knetz yang isinya adalah netizen Korea Selatan, dan SEAblings yang merupakan netizen dari negara-negara South East Asia (SEA), termasuk Indonesia.
Pengguna media sosial dari Indonesia, Filipina, dan Thailand dengan cepat bersolidaritas lewat SEAblings (dibaca siblings yang artinya saudara). Mereka mengkritik superioritas budaya serta diskriminasi terhadap warga Asia Tenggara di Korea Selatan.
Spiral konflik digital pun terbentuk. Seperti biasa, perdebatan melebar ke mana-mana. Isunya bukan lagi soal aturan konser yang dilanggar, melainkan budaya.
Ini bukti bahwa media sosial adalah pedang bermata dua. Dalam kasus ini, terlihat bagaimana insiden kecil dapat membesar secara eksponensial di ruang digital.
BACA JUGA:Lia ITZY Absen di Konser K-Pop Super Live Penutupan World Scout Jamboree, Ada Apa?
BACA JUGA:Konser K-Pop Pungkasi Jambore Pramuka Sedunia, Pelipur Lara Setelah Gangguan Panas dan Badai
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Sejumlah penelitian sosial menunjukkan bahwa stereotip terhadap warga Asia Tenggara di Korea Selatan sering berkaitan dengan persepsi status ekonomi dan tenaga kerja migran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: diolah dari berbagai sumber