Conscious Unbossing ala Gen Z: Ketika Jabatan Tak Lagi Menggoda

Conscious Unbossing ala Gen Z: Ketika Jabatan Tak Lagi Menggoda

ILUSTRASI Conscious Unbossing ala Gen Z: Ketika Jabatan Tak Lagi Menggoda.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PADA 21 Januari 2026, Business Lounge Journal menulis sesuatu yang jarang dibicarakan secara terbuka di Indonesia. Banyak gen Z yang tidak lagi menjadikan jabatan manajer sebagai tujuan karier. Mereka justru merasa lebih nyaman memilih jalur keahlian meski peluang jabatan struktural terbuka lebar.

Tulisan itu mencatat perubahan sikap yang cukup serius, bukan sekadar keluhan generasi. Promosi manajerial mulai dipertanyakan, bukan lagi ditunggu dengan antusias. Di situ, istilah conscious unbossing terasa pas untuk membaca konteks Indonesia.

Perubahan tersebut tidak muncul dalam bentuk penolakan terbuka. Tidak ada protes, tidak ada pernyataan keras, dan tidak ada sikap konfrontatif. Yang terlihat justru pola keputusan yang berulang dalam keseharian kerja.

BACA JUGA:Gen Z: Denyut Digital Demokrasi

BACA JUGA:Borrowed Nostalgia: Kebangkitan Era 90-an di Kalangan Gen Z

Saat promosi manajerial ditawarkan, responsnya tidak lagi seragam. Ada yang meminta waktu, ada yang menimbang ulang, dan ada pula yang memilih tetap di peran saat ini. Keputusan tersebut diambil secara personal dan sering kali tanpa perlu penjelasan panjang.

Pola itulah yang kemudian membentuk gejala baru di banyak organisasi. Pilihan karier tidak lagi otomatis bergerak ke arah jabatan struktural walaupun peluang tersedia dan kinerja dinilai baik.

Bagi generasi sebelumnya, seperti gen Y dan gen X, hal itu tidak lazim. Jabatan selama ini dipandang sebagai puncak karier. Menolaknya kerap dibaca sebagai kurang dorongan untuk maju, bahkan dianggap tidak tahu diri terhadap kepercayaan yang diberikan organisasi.

BACA JUGA:Bonus Demografi, Gen Z, dan Tantangan SDM

BACA JUGA:Demo Mahasiswa Bukti Gen Z Bukan Generasi Apatis

Namun, gen Z tumbuh di situasi yang berbeda. Mereka menyaksikan atasan yang kelelahan, rapat tanpa ujung, dan tanggung jawab yang tidak selalu sebanding dengan kuasa. Jabatan tidak lagi otomatis berarti naik kelas, sering kali justru naik beban, baik secara mental maupun sosial.

Secara global, gejala itu sudah lebih dulu dibicarakan. Majalah Forbes pada 2024 mengulas kecenderungan gen Z menjauh dari posisi manajerial, merujuk pada survei Robert Walters di tahun yang sama. Angkanya jelas: lebih dari separuh gen Z tidak tertarik pada peran manajer tradisional.

Di Indonesia, gaungnya datang belakangan. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena budaya kerja kita gemar menunda kegelisahan. Banyak hal dibicarakan di ruang HR, tetapi jarang keluar ke ruang publik, sehingga isu itu belum banyak yang tahu.

BACA JUGA:AI dan Gen Z: Bencana atau Oasis?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: