Hokkian Kun Thauw Boen Bio, Olahraga dan Olah Rasa
Perguruan Hokkian Kun Thauw Boen Bio dalam sebuah acara pada tahun 2023 di Kelenteng Boen Bio, Surabaya.-Boen Bio-
Di Kelenteng Boen Bio Surabaya, kun thauw atau bela diri tradisional Tiongkok masih lestari. Perguruan itu bernama Hokkian Kun Thauw Boen Bio. Anggotanya dari berbagai kalangan. Selain sebagai sarana olahraga, juga upaya melestarikan tradisi leluhur.
Hokkian kun thauw. Seperti namanya, bela diri itu berkembang dalam masyarakat Hokkian. Tepatnya berasal dari Provinsi Fujian di Pesisir Selatan, Tiongkok.
Eksis pula di berbagai kawasan di Indonesia. Termasuk Kapasan, Surabaya. Pada era kolonial, daerah itu dikenal dengan para tokoh bela diri. Mereka disebut "Buaya Kapasan."
Kini, bela diri tradisional itu lestari di Kelenteng Boen Bio, tempat ibadah umat Konghucu ikonik di kawasan tersebut.
BACA JUGA:Cisuak Jelang Imlek di Kelenteng Boen Bio, Panjatkan Harapan Sepanjang Tahun
BACA JUGA:Pembagian Kaki Palsu di Kelenteng Boen Bio Bangkitkan Semangat Penyandang Disabilitas Fisik
Anggotanya berlatih di Graha Boen Bio, bangunan baru yang ada di belakang kelenteng. "Kami rutin latihan setiap Rabu dan Jumat," ujar Bambang Edison Soekanto (Guan), pelatih Hokkian kun thauw, 11 Februari 2026.
Sebenarnya, perguruan itu telah eksis sejak lama. “Sejarahnya dimulai pada 1970-an. Kala itu, Ketua Kelenteng Boen Bio meminta seorang guru bela diri. Ia ingin tradisi itu dilestarikan oleh pemuda Tionghoa setempat,” ujarnya.

Para murid Perguruan Hokkian Kun Thauw Boen Bio berlatih berbagai jurus. Termasuk olah napas.-Guruh D.N.-HARIAN DISWAY
Mpek Kwee King Yang, guru pertama Hokkian kun thauw, waktu itu usianya telah sepuh. Lebih dari 80 tahun. Fisiknya terbatas. Ia pun mengirim The Kang Hay, murid terbaiknya untuk meneruskan ajarannya.
Salah seorang murid The Kang Hay adalah Guan. Ia mengenang cerita gurunya. Bahwa pada era sebelum Reformasi, latihan kun thauw tak mudah.
BACA JUGA:Kunjungi Kelenteng Boen Bio Surabaya, Konjen Tiongkok Ye Su Goreskan Sishui dalam Aksara Hanzi
BACA JUGA:Jelang Imlek, Kelenteng Boen Bio Gelar Cisuak sebagai Tolak Bala
Terhalang oleh Inpres RI nomor 14 Tahun 1967. Isinya melarang perayaan agama dan adat istiadat Tionghoa ditampilkan di ruang publik. Tetapi boleh dilakukan secara internal. Atau di lingkup kecil. Seperti dalam lingkungan keluarga.
“Pada masa itu, para praktisi terpaksa latihan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan ketika ada pengawas yang datang, mereka sering berpura-pura seperti latihan karate,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: harian disway