Remaja Bunuh Remaja di Kampung Gajah, Bandung: Motif Sangat Sepele
ILUSTRASI Remaja Bunuh Remaja di Kampung Gajah, Bandung: Motif Sangat Sepele.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Jadi, motif pembunuhan itu sepele. Yakni, korban memutus pertemanan. Mereka bukan putus pacaran, mereka juga bukan homoseks. Begitu sederhananya motif pembunuhan sadis itu.
Mengapa bisa begitu?
Dikutip dari Psychology Today, 10 November 2021, berjudul 5 Reasons Why Kids Kill Kids, karya Katherine Ramsland, mengungkap lima alasan pembunuhan remaja oleh remaja.
Disebutkan, saat itu ada beberapa kasus remaja membunuh seseorang seusia mereka karena alasan sepele.
Ramslan: ”Kita seharusnya tidak terkejut bahwa beberapa anak menganggap pembunuhan sebagai jalan yang layak untuk mencapai tujuan. Berikut ini alasan-alasan para pelaku.
Pertama, balas dendam. Di Florida, Amerika Serikat (AS), pada Oktober 2021 seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dan dua remaja perempuan berusia 17 dan 16 tahun didakwa pembunuhan tingkat pertama (di Indonesia disebut pembunuhan berencana). Mereka membunuh Dwight Grant, 18 tahun.
Rekaman CCTV menunjukkan kedua remaja yang lebih tua menyerangnya dengan pisau dan pedang. Remaja perempuan memancing korban dengan janji hubungan seksual. Rupanya, si perempuan dendam kepada korban.
Kedua, ahli kebencian. Di Brasil, pada Agustus 2021, Raissa Nunes Borges ingin mengetahui apakah ia mampu menjadi psikopat. Ia menyamakan gangguan itu dengan membunuh. Ujian yang dilakukan, dia memilih temannyi, Ariane Barbara Laureano de Oliveira, 18, dibunuh. Sebab, korban bertubuh mungil dan ringkih.
Ketiga, ketidaksukaan. Skylar Neese, 16, menghilang dari West Virginia, AS, Juli 2012. CCTV menunjukkan, dia memasuki sebuah sedan berwarna perak diantar temannya, Shelia Eddy dan Rachael Shoaf.
Para detektif menggunakan CCTV itu untuk menekan kedua gadis itu. Shoaf akhirnya mengakui, mereka membawa Skylar ke tempat terpencil untuk dibunuh. Alasannya: Mereka ”tidak menyukainya” dan ”tidak ingin berteman lagi”.
Keempat, keuntungan pribadi. Tiga anak laki-laki mengayunkan palu, kapak, dan batu untuk membunuh Jason Sweeney di Pennsylvania, AS, pada 2003. Mereka menginginkan uang yang baru saja diterima Sweeney dari pekerjaannya.
Kelima, emulasi delusional. Remaja AS, Steven Miles, 16, mengidolakan tokoh fiksi di film Dexter di Netflix, si pembunuh berantai. Miles kemudian menikam pacarnya hingga tewas, menggunakan peralatan ayahnya yang penebang pohon. Mayat korban dibungkus plastik, dibuang ke tempat sampah. Hakim di pengadilan menyatakan, Miles sakit jiwa sehingga dikurung di RSJ setempat.
Disimpulkan Ramsland, ada tiga, pertama, anak-anak yang membunuh teman sebaya mereka cenderung mengungkapkan motivasi yang kurang beralasan.
Kedua, beberapa anak yang melakukan pembunuhan mungkin rentan terhadap kekuatan sosial yang menampilkan pembunuhan sebagai pengalaman yang sangat berpengaruh.
Ketiga, anak-anak yang membunuh sering kali percaya bahwa serangan kekerasan tersebut akan memperbaiki hidup mereka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: