Surabaya Bukan Dubai: Obsesi Langit dan Lupa Tanah
ILUSTRASI Surabaya Bukan Dubai: Obsesi Langit dan Lupa Tanah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Penyakit utamanya adalah hilangnya daerah resapan. Air dipaksa pergi secepatnya ke laut. Padahal, laut pun sedang pasang. Air rob naik ke daratan. Air hujan turun dari langit. Bertemulah dua massa air di tengah kota. Terjadilah genangan abadi yang sulit surut.
Konsep kota spons yang sering didengungkan para ahli tata kota seolah hanya jargon manis. Praktiknya nol besar. Pembangunan masih berorientasi pada beton. Makin banyak beton, makin maju sebuah kota.
Persepsi usang tersebut masih bercokol kuat. Padahal, kota modern di negara maju justru mulai membongkar beton. Surabaya justru berjalan ke arah sebaliknya. Menutup sungai dengan box culvert demi menambah lebar jalan.
WARISAN YANG MENGGENANG
Generasi mendatang bakal mewarisi kota seperti apa? Apakah kota hutan beton yang panas dan rawan tenggelam? Ataukah kota yang ramah air? Pilihan ada di tangan pemangku kebijakan sekarang.
Membangun drainase raksasa di bawah tanah memang tidak seksi secara politik. Tidak terlihat oleh mata. Tidak bisa difoto untuk pameran keberhasilan di media sosial.
Berbeda dengan membangun jembatan ikonik atau gedung pencakar langit. Semua orang bisa melihat. Semua orang bisa memuji.
Namun, drainase adalah urat nadi kehidupan kota. Jika urat nadi tersumbat, stroke kota bisa terjadi sewaktu-waktu.
Jangan sampai Surabaya menjadi Dubai KW. Terlihat megah dari jauh, tapi rapuh di dalam. Dubai punya uang tidak terbatas untuk merekayasa alam. Surabaya punya keterbatasan anggaran.
Solusi cerdas berbasis alam jauh lebih murah dan berkelanjutan. Perbanyak biopori. Wajibkan setiap gedung punya sumur resapan raksasa. Hentikan betonisasi halaman rumah. Kembalikan fungsi sungai.
Jangan jadikan sungai sekadar saluran pembuangan raksasa di belakang rumah. Jadikan sungai sebagai beranda depan.
Sudah saatnya orientasi pembangunan diubah. Jangan hanya mendongak ke atas, mengagumi gedung tinggi. Tundukkan kepala ke bawah. Lihatlah tanah yang dipijak. Apakah tanah itu masih sanggup menelan air? Ataukah tanah sudah muak dimuntahkan beton?
Air adalah berkah. Jangan sampai salah urus membuat berkah berubah menjadi musibah.
Kota yang cerdas bukanlah kota dengan gedung tertinggi. Bukan pula kota dengan mal terbanyak. Kota cerdas adalah kota yang tahu cara menghormati air. Kota yang memberikan ruang bagi air untuk singgah sejenak sebelum kembali ke laut atau meresap ke akuifer.
Genangan di jalan protokol adalah teguran keras dari alam. Teguran bahwa keserakahan beton sudah melampaui batas toleransi lingkungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: