Surabaya Bukan Dubai: Obsesi Langit dan Lupa Tanah
ILUSTRASI Surabaya Bukan Dubai: Obsesi Langit dan Lupa Tanah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
HUJAN Februari jujur sekali. Air tidak berbohong soal arah lari saat selokan kota tersedak beton. Orang-orang terpesona melihat Surabaya makin menjulang ke langit ala Dubai. Lampu kota makin gemerlap. Namun, tanah sering luput dari pandangan.
Di bawah kaki gedung, air masih bingung mencari jalan pulang. Aspal hitam mengilat justru menjadi sungai dadakan. Genangan muncul tanpa permisi. Bukan tamu, melainkan penghuni tetap saat musim basah tiba.
Warga kota mengeluh. Pengendara motor menepi. Mobil mewah ragu melibas genangan. Sebuah ironi terpampang nyata. Kota berambisi mencakar langit, tapi kaki-kakinya basah kuyup terendam lumpur.
ILUSI FATAMORGANA METROPOLITAN
Surabaya punya mimpi besar. Mimpi tersebut terbuat dari kaca, baja, dan beton. Lihat saja deretan bangunan jangkung di pusat kota. Megah. Berkilau. Futuristis. Sekilas mirip Dubai. Kota di Uni Emirat Arab tersebut memang memukau dunia lewat gedung pencakar langit.
BACA JUGA:Ujian Surabaya sebagai Kota Moderasi: Simbol Keberagaman
BACA JUGA:Meraba Wajah Prostitusi di Surabaya Saat Ini
Namun, ada satu perbedaan mendasar. Dubai berdiri di atas gurun pasir. Surabaya berdiri di atas dataran rendah delta sungai. Karakter tanah berbeda total. Memaksakan logika pembangunan gurun ke tanah rawa adalah kekeliruan fatal.
Obsesi mengejar estetika visual kerap melupakan fungsi dasar ekologis. Dulu halaman rumah warga masih berupa tanah atau rumput. Sekarang paving block mendominasi. Semuanya demi alasan kepraktisan dan kebersihan.
Padahal, tanah butuh bernapas. Tanah butuh minum. Ketika seluruh permukaan kota terbungkus semen, air hujan menjadi yatim piatu. Tidak punya rumah. Akhirnya, air berkeliaran di jalan raya. Masuk ke ruang tamu penduduk. Mengganggu ritme ekonomi kota.
DRAMA BASAH DI JALAN PROTOKOL
Mari tengok kejadian beberapa hari lalu. Hujan turun deras mengguyur kota. Jalan protokol yang biasanya gagah mendadak lumpuh. Kendaraan roda dua mogok massal. Knalpot kemasukan air. Wajah-wajah lelah para pekerja pulang kantor terlihat pasrah.
BACA JUGA:Padel, Olahraga Sosial Baru Masyarakat Surabaya
BACA JUGA:Sister City Surabaya-Varna untuk Masa Depan Kota Global
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: