Surabaya Bukan Dubai: Obsesi Langit dan Lupa Tanah
ILUSTRASI Surabaya Bukan Dubai: Obsesi Langit dan Lupa Tanah.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Di samping itu, gedung apartemen mewah berdiri angkuh. Lampu lobi apartemen bersinar terang, memantul di permukaan air keruh jalanan. Kemewahan vertikal bersanding dengan kekumuhan horizontal.
Situasi itu bukan adegan film. Hal tersebut menjadi realitas harian warga Surabaya saat musim hujan. Mobil seharga rumah tersendat di tengah genangan cokelat. Teknologi canggih kendaraan tidak berkutik kala menghadapi hukum alam.
Air mencari tempat rendah. Ketika selokan mampet, jalan raya adalah pilihan termudah. Drainase kota seolah menyerah. Sampah plastik, sedimen lumpur, dan sempitnya penampang saluran menjadi penyebab klise.
Sudah sering dibahas. Sudah sering didengar. Namun, solusi permanen seolah masih jauh dari jangkauan.
BACA JUGA:Surabaya Goes to Wellness and Medical Center Tourism
BACA JUGA:Kasus Curanmor di Surabaya: Sebelum Stigma Menjadi Budaya
Pengendara mobil hanya bisa mengumpat dalam hati. Waktu terbuang percuma. Bahan bakar terbakar sia-sia. Produktivitas kota terhambat hanya karena air tidak tahu harus mengalir ke mana.
Padahal, logika air sangat sederhana. Gravitasi menariknya ke bawah. Jika bawah tertutup, air bakal menyamping. Kerugian ekonomi akibat macet karena banjir tentu besar sekali. Namun, kerugian tersebut sering dianggap angin lalu.
BETON TUMBUH, RESAPAN HILANG
Pohon-pohon besar ditebang demi pelebaran jalan. Ruang terbuka hijau berubah wujud menjadi ruko. Lahan kosong disulap menjadi area parkir. Surabaya makin gersang. Panas terik saat kemarau, banjir saat hujan.
Siklus ekstrem tersebut kian terasa nyata. Beton menyerap panas matahari, menyimpannya, lalu melepaskannya perlahan saat malam. Udara kota makin gerah. Saat hujan turun, tidak ada akar pohon yang menahan laju air.
Tidak ada tanah gembur yang menyerap curah hujan. Semuanya meluncur bebas ke saluran drainase kota.
BACA JUGA:Surabaya, Kota Revolusi dan Jebakan Rutinitas
BACA JUGA:Surabaya Menuju Ekonomi Hijau
Kapasitas drainase tentu punya batas. Pompa air memang sudah disiapkan. Rumah pompa bertebaran di berbagai titik. Petugas bekerja keras siang malam. Tapi, mengandalkan pompa saja sama dengan mengobati gejala, bukan menyembuhkan penyakit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: