Ring Satu Presiden
ILUSTRASI Ring Satu Presiden.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Luhut Pandjaitan, sebelum menjadi menko marves, cukup lama menjadi kepala staf presiden. Sebagai pejabat lingkaran istana. Pengaruh-pengaruh mereka kepada presiden sangat terasa.
BACA JUGA:Sayang, Prabowo Tidak Datang
BACA JUGA:Prabowo Baru
Kalau kita melihat, di era Prabowo ”anak-anak muda” yang mengisi pos strategis itu. Mensesneg Prasetyo Hadi, misalnya. Di internal partainya mungkin sudah dikenal, tetapi pengalaman publik belum banyak jejak. Begitu juga Seskab Letkol Teddy Indra Wijaya yang masih muda pengalaman.
Yang jelas, mereka menjadi pejabat elite istana karena sebagai anak didik Prabowo. Anak buah yang sangat patuh. Sangat loyal, karena dibina dari muda.
Lain halnya dengan sosok penuh pengalaman yang datang dengan kesetaraan. Dalam arti, mereka bergabung ke istana bukan karena anak binaan sang presiden. Seperti Sintong dengan Habibie, Luhut dengan Jokowi. Mereka pasti tidak terkendala secara psikologis menjadi teman diskusi presiden.
BACA JUGA:Lain Bung Karno, Lain Prabowo Subianto: Sikap Indonesia soal Sanksi IOC
BACA JUGA:Healing Prabowo
Sebelum kabinet Prabowo diumumkan, saya dan banyak lainnya memprediksi sosok semacam Yusril Ihza Mahendra atau Jimly Asshiddiqie yang menempati jabatan seskab atau mensesneg. Atau, paling tidak seperti Sufmi Dasco Ahmad kalau orang internal partai. Atau, sosok yang sudah dikenal publik sebagai teman diskusi Prabowo.
Beberapa media menyebut orang di sekitar presiden dengan istilah Hambalang Boys. Mereka adalah anak-anak muda yang menjadi kader militan Prabowo. Misalnya, Prasetyo Hadi, Menlu Sugiono, dan Wakil Mentan Sudaryono. Termasuk Seskab Teddy. Kesetiaan mereka tak perlu diragukan. Kalau masalah kepintaran dan adab, para Hambalang Boys itu juga tak perlu diragukan.
Yang menjadi pertanyaan, apakah mereka secara psikologis berani menjadi lawan diskusi Prabowo. Menjadi lawan debat, dalam arti memberikan alternatif lain. Apakah berani memberikan jawaban ”tidak” bila seharusnya begitu.
Yang terlihat sekarang, Presiden Prabowo seperti berjalan sendiri. Dari pidatonya, ada jarak pandangan presiden dengan suara yang berkembang di masyarakat.
Masukan dan kritik masyarakat seperti tak tersentuh ke kuping presiden.
Dalam kasus MBG, misalnya, Presiden Prabowo menyebut Indonesia lebih baik daripada program serupa di Jepang dan Eropa. Padahal, situasi lapangan, program MBG yang baru seumur Jagung masih penuh protes dan kejanggalan. Hal seperti itulah yang seharusnya menjadi tugas tim lingkaran istana, yang menjadi filter lewat masukan kepada presiden.
Agar presiden tidak menjadi sasaran kritik dan perundungan dari publik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: