Prabowo Baru

Prabowo Baru

ILUSTRASI Prabowo Baru.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

PRESIDEN Prabowo Subianto baru saja menerima sejumlah tokoh nasional di istana. Mulai para tokoh sipil vokal, mantan menteri luar negeri dan wakil menteri luar negeri, hingga tokoh organisasi kemasyarakatan Islam. 

Dengan kelompok kritis, banyak tema dibahas. Mulai reformasi Polri sampai soal KPK. Sedangkan dengan mantan menlu dan pimpinan ormas Islam, presiden menjelaskan tentang keikutsertaan Indonesia di Board of Peace (BOP) yang dibentuk Donald Trump. 

Pertemuan yang berlangsung dalam waktu berdekatan tersebut jelas menarik perhatian. Sebab, itu bisa dianggap sebagai gaya baru kepemimpinan Prabowo sejak memegang kendali kepresidenan. Setidaknya dalam merespons kritik dari masyarakat. 

BACA JUGA:Sambutan Prabowo di Satu Abad NU: Pemimpin Tidak Boleh Digerakkan Dendam dan Kebencian

BACA JUGA:Indonesia Jadi Pelopor Kampung Haji di Mekkah, Prabowo: Negara Lain Mulai Mengikuti

Semua itu memperkuat pergeseran cara presiden mengelola kritik publik. Sampean pasti tahu bahwa kritik publik merupakan elemen penting dalam negara demokrasi. Karena itu, fenomena tersebut menarik dicermati sebagai perubahan gaya politik presiden. Bukan sekadar respons situasional.

Semua juga tahu bahwa selama ini Presiden Prabowo dikenal sebagai tokoh yang konfrontatif. Terutama saat ia masih di luar lingkar kekuasaan. Itu juga terlihat dalam setiap pidato politiknya sebelum menjadi orang pertama di RI. Ia menempatkan diri berhadap-hadapan dengan pemerintah.

Namun, setelah menjadi kepala negara, ia  terlihat cenderung merangkul tokoh pengkritik. Juga, membuka lebar-lebar ruang integrasi elite. Tampak sekali kecenderungan untuk menjadikan kooptasi sebagai strategi meredam oposisi tanpa konflik terbuka.

BACA JUGA:Prabowo-Jokowi: Panas Dingin Suksesi

BACA JUGA:Lain Bung Karno, Lain Prabowo Subianto: Sikap Indonesia soal Sanksi IOC

Itu ibarat satpam galak yang berubah menjadi customer service. Satpam mal akan selalu curiga terhadap semua pengunjung. Begitu ada yang bertanya atau protes, langsung dicek tasnya, ditanya tujuannya, dan bahkan bisa langsung ditunjukkan jalan keluar. 

Begitu satpam harus menjalankan fungsi sebagai customer service seperti di Bank BCA, semua keluhan disambutnya dengan senyum. Mereka dipersilakan duduk dan bahkan ditawari minuman sambil mendengarkan keluhan. Satpam menjaga pintu, customer service menjaga hubungan.   

Atau, seperti pergeseran dari firewall komputer ke wifi publik. Dulu kepemimpinan terasa seperti firewall komputer yang harus menyaring ketat segala ancaman. Kritik dalam perspektif itu dianggap sebagai ancaman yang harus dipagari. 

BACA JUGA:Healing Prabowo

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: