Ring Satu Presiden

Ring Satu Presiden

ILUSTRASI Ring Satu Presiden.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

SUATU HARI, saat menjadi presiden, B.J. Habibie memanggil Letjen Sintong Panjaitan. Habibie mendiskusikan undangan Mabes ABRI (TNI). Untuk mendengar paparan reformasi TNI.

Sintong yang kala itu menjabat penasihat keamanan presiden tidak setuju dengan acara itu. ”Mengapa Bapak yang ke Cilangkap (Mabes TNI, Red),” kata Sintong. ”Lantas bagaimana?” tanya Habibie. 

”Begini sajalah, Pak. Saya aturkan nanti. Mereka yang menghadapi Bapak ke istana untuk pamaparan,” ujar Sintong, seperti yang ia tulis di biografinya yang berjudul Perjalanan Seorang Prajurit: Para Komando.

Sintong memberikan nasihat begitu karena seperti itulah Soeharto yang tak pernah ke Cilangkap. Para jenderal yang menghadap presiden. ”Setelah acara, Bapak Presiden bisa minum teh bersama para jenderal,” jelas mantan komandan jenderal Kopassus yang legendaris itu. Habibie pun langsung setuju.

BACA JUGA:Presiden-Wapres Paket Solo

BACA JUGA:Presiden laksana Bebek (Tidak) Lumpuh

Poin penting dari cerita Sintong itu adalah para pejabat di sekitar presiden harus memberikan pengaruh kepada presiden. Bukan sekadar pejabat ”siap, Bos!”.

Pejabat lingkaran satu istana seharusnya mampu memberikan pilihan-pilihan yang lebih baik sebelum presiden melangkah. Itu adalah tugas para sekretaris negara, sekretaris kabinet, penasihat presiden, atau kepala staf presiden.

Sebab, pejabat itulah yang setiap hari berada di sekitar presiden. Ibaratnya, para pejabat istana adalah leher dan otaknya presiden, sedangkan para menteri adalah tangan dan kakinya presiden. Yang melakukan eksekusi.

Para pejabat lingkaran satu itulah yang punya kesempatan besar membisiki presiden. Bahkan, saat menteri lain menghadap presiden, satu di antara mereka terlihat mendampingi.

BACA JUGA:Upacara HUT Kemerdekaan Para Mantan Presiden Indonesia

BACA JUGA:Presiden Luar Jawa

Itulah pentingnya jabatan di pos strategis tersebut diisi sosok yang kaya pengalaman. Bisa memberikan pandangan refleks dan alternatif. Di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pun, ada sekretaris negara seperti Letjen Sudi Silalahi.

Di era Jokowi, ada Pratikno, mantan rektor UGM, di kursi mensesneg. Juga, ada Seskab Pramono Anung yang punya pengalaman segudang sebagai sekjen partai dan pimpinan DPR.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: