Rezim Bodoh

Rezim Bodoh

ILUSTRASI Rezim Bodoh.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

TIYO ARDIANTO menjadi perbincangan nasional. Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) UGM (Universitas Gadjah Mada) itu dengan lugas menyebut rezim pemerintahan Prabowo-Gibran sebagai rezim bodoh.

Kecaman itu seperti bom yang meledak di lingkaran elite politik nasional. Sirkel elite Prabowo selalu mengeklaim bahwa Prabowo tidak antikritik. Namun, reaksi terhadap kritik Tiyo berbicara lain. 

Hal itu bisa dilihat dari reaksi Prasetyo Hadi, juru bicara Prabowo. Ketika ditanya mengenai teror terhadap Tiyo, ia bilang tidak tahu siapa pelaku teror. Alih-alih, Prasetyo malah menyoal etika Tiyo dalam menyampaikan kritik.

BACA JUGA:Sebut Penjual Es Teh Bodoh, Gus Miftah Dihabisi Netizen

BACA JUGA:Perencanaan Pajak, Upaya Cerdik atau Bodoh

Narasi yang dipakai Prasetyo Hadi khas narasi lama produk Orde Baru. Ia bilang, pemerintah tidak antikritik. Namun, kritik ada etikanya. Jangan memakai diksi yang kurang sopan. Tidak lupa ada petitah-petitih bahwa sebagai bagian dari masyarakat Timur harus selalu memegang sopan santun dan adab.

Tentu Tiyo punya pertimbangan tersendiri mengapa ia memakai diksi ”bodoh”. Publik sudah sangat hafal dengan diksi ”dungu” yang menjadi trademark Rocky Gerung.

Sudah lama publik tidak mendengar ungkapan trademark itu dari Rocky. Maka, ketika Tiyo muncul dengan diksi ”bodoh”, sebagian publik, yang rindu sosok kritis, seperti tersiram air segar penghapus dahaga.

Mungkin saja Prabowo tidak antikritik. Namun, Prabowo tidak menginginkan ada oposisi. Prabowo terobsesi dengan sebuah kondisi yang bersatu tanpa ada yang berada di seberang jalan. Ia berpendapat bahwa kesatuan dan persatuan nasional menjadi syarat utama keberhasilan program-program pembangunannya.

Ia mengundang para vokalis ke istana untuk berdialog. Mereka disebut sebagai oposisi meski banyak yang mempertanyakan kriteria oposisi yang dipakai untuk mereka yang diundang ke istana. 

Prabowo mengundang 1.200 guru besar dan rektor ke istana. Banyak yang berharap bahwa pertemuan itu menjadi dialog yang kritis dan terbuka antara para intelektual dan presiden. Nyatanya, tidak ada dialog, hanya monolog, taklimat alias brifing. 

Sepulang dari acara itu, para profesor malah dikasih PR untuk membaca dan mempelajari buku karangan Prabowo tebal-tebal sebanyak empat jilid.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), bodoh berarti stupid, tidak cepat mengerti, tidak mudah tahu, atau tidak bisa mengerjakan sesuatu. Dungu berarti sangat tumpul otaknya, tidak cerdas, bebal, atau bodoh. Menurut definisi itu, sebutan dungu ala Rocky Gerung lebih keras daripada sebutan bodoh dari Tiyo Ardianto.

Rocky aman-aman saja dan selalu lolos dari jeratan hukum. Tiyo dan orang tuanya diteror dan diintimidasi orang tidak dikenal. Ada candaan yang mengatakan Rocky seharusnya dihukum penjara dengan pasal ”membocorkan rahasia negara” karena kepala negara memang dungu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: