Mikroplastik Mengintai Kita (1): Kadar di Surabaya Paling Tinggi

Mikroplastik Mengintai Kita (1): Kadar di Surabaya Paling Tinggi

CAKRAWALA KOTA SURABAYA di sekitar Balai Kota, 31 Desember 2025.-Boy Slamet-

Nah, di Surabaya, yang terbanyak adalah mikropastik jenis fiber. Persentasenya 75 persen. Itu berasal dari limbah industri tekstil seperti serat poliester dan nilon dari pakaian, permukiman padat penduduk, serta kawasan pesisir yang sering memakai jaring sintetis. 

Partikel terbanyak lainnya adalah jenis polietilen yang berasal dari kegiatan pembakaran sampah dan penggunaan plastik sekali pakai. “Sebanyak 20 persennya adalah filamen, asal cemaran tersebut dari penguraian sampah plastik yang tipis dan berbentuk lembaran, seperti kantong kresek. Setelah itu, sisanya, fragmen terbentuk dari sampah plastik yang keras, seperti tutup botol atau wadah sampo,” urai Rafika. 

BACA JUGA:Air Hujan Surabaya Tercemar Mikroplastik, Eri Minta Warga Berhenti Bakar Sampah

BACA JUGA:BRIN Gandeng Kampus Teliti Hujan Mikroplastik di Surabaya

Dia menerangkan, mikroplastik secara umum terbentuk terjadi melalui degradasi atau pecahnya plastik berukuran besar menjadi partikel-partikel kecil. Umumnya dari aktivitas manusia. Partikel itu kemudian terbawa angin dan melayang di udara. 

“Mikroplastik dapat menempel pada awan. Akhirnya akan turun kembali ke bumi bersama air hujan. Maka, konsentrasi mikroplastik cenderung lebih tinggi di area padat penduduk dan pusat aktivitas manusia, tempat limbah plastik banyak ditemukan,” ucap perempuan 26 tahun itu. 

Hal yang menjadi indikator pencemaran mikroplastik dalam penelitian Ecoton adalah karakteristik wilayah. Wilayah padat penduduk, dekat jalan raya, atau dekat laut cenderung memiliki kandungan mikroplastik yang tinggi. 

Nah, jika mikroplastik bisa dideteksi melalui air hujan dan udara, bukan tidak mungkin bahwa cemaran itu juga bisa ikut terbawa ke aliran sungai. Dan itu pernah terdeteksi enam tahunsilam.

BACA JUGA:Waspada! 7 Bahaya Tersembunyi Mikroplastik bagi Kesehatan Manusia yang Perlu Diketahui

BACA JUGA:Orasi Ilmiah Guru Besar Unair Prof Lilis: Semua Bisa Terpapar Mikroplastik

Berdasarkan riset pada Januari-Maret 2020 yang dilakukan oleh Nanik Retno Buwono, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (UB) tentang kandungan mikroplastik pada ikan di sungai Brantas, Surabaya termasuk wilayah dengan konsentrasi mikroplastik yang paling tinggi.

Kala itu, Retno mengambil sampel pada saluran pencernaan dan insang. Di setiap titik lokasi sampling, diambil sampel sebanyak 20 ikan cere atau Gambusia affinis. Mulai dari hulu (Kota Batu) hingga hilir (Kota Surabaya).  

Ikan cere dipilih sebagai indikator pencemaran perairan karena memiliki kemampuan bertahan hidup yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Bahkan di perairan yang sudah terkontaminasi oleh polutan atau memiliki suhu yang fluktuatif. Jumlahnya sangat melimpah di sungai Brantas. 

“Mikroplastik berbeda dengan logam berat yang bisa masuk secara difusi melalui kulit. Mikroplastik masuk ke tubuh ikan melalui sistem pernapasan (insang) dan sistem pencernaan,” ungkap Retno saat dihubungi Harian Disway, 9 Februari 2026.

Mikroplastik dapat mengalir dalam darah. Lalu berpindah ke jaringan organ ikan yang lainnya. Bahkan bisa menyebar ke seluruh taksa rantai makanan, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai Brantas. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: