Antisipasi Virus Nipah, Cara Cegah Zoonosis Saat Musim Hujan

Antisipasi Virus Nipah, Cara Cegah Zoonosis Saat Musim Hujan

Ilustrasi virus. WHO sebut risiko penyebaran virus Nipah ke skala global tergolong rendah-AI Generated-

Genangan air, sampah organik, serta tempat penyimpanan makanan terbuka. Itu menjadi faktor tambahan yang memperbesar risiko paparan patogen.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, kewaspadaan terhadap zoonosis seperti Nipah menjadi penting. Karena penyakit itu memiliki tingkat fatalitas yang relatif tinggi dibanding banyak infeksi virus lainnya.

Cara Mencegah Penularan Lewat Makanan

Pencegahan utama terletak pada praktik keamanan pangan yang baik. Masyarakat disarankan untuk selalu mencuci buah dan sayuran dengan air bersih mengalir sebelum dikonsumsi.

Jika memungkinkan, buah sebaiknya dikupas. Gunanya untuk meminimalkan risiko kontaminasi pada bagian luar.

BACA JUGA:Virus Nipah Menular dari Kelelawar, IDAI: Jangan Panik, Tetap Waspada

BACA JUGA:Lebih Kenal tentang Virus Nipah: Asal, Cara Penularan, Gejala, dan Cara Mencegah

Hindari mengonsumsi buah yang sudah berlubang, terlihat bekas gigitan hewan, atau jatuh lama di tanah tanpa perlindungan.

Produk tradisional seperti nira atau jus segar sebaiknya direbus terlebih dahulu sebelum diminum. Proses pemanasan dapat membantu menonaktifkan virus. Mungkin saja Nipah ada di dalam cairan tersebut.

Lakukan langkah sederhana. Seperti mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah beraktivitas di luar rumah.

Itu terbukti efektif dalam memutus rantai penularan berbagai penyakit infeksi. Termasuk yang berasal dari hewan.

BACA JUGA:Menyusul Virus Nipah yang Melanda India, Pemerintah RI Keluarkan Surat Kewaspadaan

BACA JUGA:Lebih Kenal tentang Virus Nipah: Asal, Cara Penularan, Gejala, dan Cara Mencegah

Pentingnya Deteksi Dini dan Kewaspadaan Masyarakat


WHO mengonfirmasi kasus Virus Nipah di India, sekaligus memicu seruan Prof. Tjandra untuk memperkuat institusi virologi di Indonesia.--X

Gejala infeksi Nipah umumnya muncul dalam rentang 4 hingga 14 hari setelah paparan. Pada tahap awal, penderita bisa mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, dan gangguan pernapasan.

Dalam kasus yang lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi ensefalitis atau peradangan otak. Tentu berpotensi fatal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: berbagai sumber