Harga Cabai Rawit Tetap Tinggi Sampai Akhir Maret: Permintaan Naik, Harga Makin ’’Pedas’’
PENJUAL CABAI, Moch Ibra (kiri) membuungkus dagangannya di Pasar Keputran, Surabaya.-Raden Khansa-Harian Disway-
Ketua Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Suyono mengatakan, petani tidak akan memanfaatkan momentum Ramadan dan Lebaran untuk melambungkan harga. Sebab, kondisi petani cabai saat ini memang sedang lesu akibat rusaknya hasil panen lantaran cuaca tak mendukung.
Kata Suyono, cabai yang beredar di pasaran saat ini berasal dari dataran tinggi. Dan memang, di Jatim ada dua sumber cabai. Yakni, cabai dataran tinggi dan dataran rendah. Momentum panennya berbeda.
BACA JUGA:Waspada Harga Pangan Naik! Update Harga Cabai, Beras, dan Telur Hari Ini 12 Februari 2026
BACA JUGA:Stok Pangan Surabaya Aman hingga 8 Bulan ke Depan, Harga Cabai hingga Telur Turun Jelang Nataru 2026
Nah, masalah lain, dataran tinggi di Jatim saat ini masih diguyur hujan. Kelembapan tinggi. Tanaman cabai mudah busuk. Panen tak maksimal. Artinya, meski harga cabai melambung, petani tak otomatis menangguk untung besar. ”Volume panen petani turun separo,” katanya. Sehingga, mesti harga cabai berlipat dua kali lipat, yang diterima petani tetap sama.
Suyono mengakui, harga cabai yang terus tinggi masa Ramadan dan Lebaran baru kali ini terjadi. Tahun lalu memang ada kenaikan harga. Tapi tak setinggi tahun ini.
Suyono memperkirakan, pada Ramadan dan Lebaran tahun depan, harga cabai bakal lebih tinggi lagi. Sebab, puasa dan Lebaran 2027 akan terjadi di awal tahun.
Sebenarnya, Jatim adalah lumbung cabai rawit secara nasional. Rata-rata produksi cabai rawit di provinsi ini mencapai 95 ton per hari. Dan sebanyak 40-50 persen cabai Jatim dikirim ke luar daerah.
TRANSAKSI JUAL BELI di lapak pedagang cabai di Pasar Keputran, Surabaya.-Raden Khansa-Harian Disway-
Suyono mengakui, petani kita masih sangat tergantung musim untuk menanam cabai rawit. Akibatnya jika terjadi cuaca ekstrem, panen petani langsung terdampak. Dan itu pasti memengaruhi harga cabai ke konsumen.
APCI sendiri telah mengusulkan berkali-kali ke pemerintah untuk membantu petani cabai soal musim tersebut. Khususnya, petani cabai di dataran tinggi. Pemerintah diharapkan bisa memberikan bantuan berupa sumur bor dalam.
”Karena pertanian cabai di dataran tinggi sangat tergantung hujan,” katanya. Jika musim kemarau mereka tak akan menanam cabai karena sulitnya air permukaan.
Masalahnya biaya untuk sumur bor dalam juga tak murah. Satu sumur berbiaya sekitar Rp350 juta. Tapi sebenarnya, itu sebanding dengan kapasitas air yang dihasilkan. Satu sumur bor bisa mengairi 40 hektare area tanam cabai. Jadi satu sumur untuk satu desa sudah lebih dari cukup. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: