Misteri Tewasnya Pensiunan JICT di Bekasi: Dua Indikator Penting
ILUSTRASI Misteri Tewasnya Pensiunan JICT di Bekasi: Dua Indikator Penting.-Arya/AI-Harian Disway-
Di lantai dua ada kamar anak bungsu korban. Dinda Nada Alifah, 27, tidur di sana saat kejadian. Rumah itu dihuni tiga orang: Ermanto, Pasmilawati, dan Dinda.
Seandainya itu perampokan, semestinya pelaku naik ke lantai dua. Perampok umumnya meneliti seisi rumah. Ini tidak.
Kedua, tidak ada barang berharga yang hilang. Di kamar korban ada brankas. Utuh. tidak ada bekas pembobolan. Di garasi ada dua mobil. Masih ada. Tapi, kedua kuncinya hilang.
Bahkan, saat kejadian, Pasmilawati mengenakan gelang dan kalung emas. Tidak hilang. Semula diberitakan gelang emas hilang, ternyata sudah diamankan Dinda saat ibunyi hendak dilarikan ke RS Primaya Kalimalang, Bekasi.
Perampok pasti mencuri barang berharga. Apalagi, gelang dan kalung emas yang menempel di tubuh korban. Ini tidak.
Berdasar penyelidikan polisi, diduga pelaku masuk rumah lewat garasi.
Garasi itu semi terbuka. Berada di halaman depan rumah, menyatu dengan dinding rumah, tanpa dinding penyekat lain. Atapnya kanopi transparan. Di situ ada dua mobil berjajar. Bagian depan dua mobil itu adalah dinding pembatas rumah, bagian belakangnya pintu pagar besi halaman depan.
Di balik garasi adalah kamar yang dihuni Ermanto dan Pasmilawati. Pembatasnya jendela kaca besar, panjang sekitar 4 meter dan tinggi 2 meter.
Dari jendela kaca itulah, diduga, pelaku masuk dan keluar. Kaca jendela tersebut sudah pecah akibat dipecahkan warga untuk menolong korban.
Kesimpulannya, seumpama itu pembunuhan, pelakunya langsung masuk ke kamar korban. Tidak ke lain-lain. Lalu, pelaku menyerang para korban. Pelaku tidak mencuri apa-apa, kecuali dua kunci mobil dan dua HP milik para korban.
Kunci mobil tanpa mobilnya, kira-kira buat apa bagi pelaku? Aneh.
Kalau HP, ada rekaman komunikasi korban. HP penting. Itulah yang diambil pelaku. Polisi biasa meneliti riwayat komunikasi korban pembunuhan dari HP. Dari situ pintu masuk polisi menyelidiki lebih lanjut.
Dari paparan tersebut, kelihatan polisi kesulitan mengungkap kasus itu. Namun, penyelidikan masih berproses. Polisi terus berjuang mengungkapnya. Polisi berharap agar warga memberikan masukan terkait kasus tersebut.
Kendati, tak ada kejahatan sempurna. Tak ada pembunuhan yang tak terungkap, kecuali penyelidik melakukan kesalahan.
Kriminolog Prancis, Edmond Locard (1877–1966), yang dikenal sebagai ”Sherlock Holmes dari Lyon” pada 1910 mencetuskan teori yang disebut Locard’s Exchange Principle (LEP). Teori itu masih sering dipakai polisi di berbagai negara sampai sekarang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: