Prestasi ITS di SEM Asia Pacific and Middle East 2026 (2): Banyak Pengalaman, Sapuangin Juara Lagi
TIM SAPUANGIN di Lusail International Circuit Qatar dalam kompetisi Shell Eco-marathon (SEM) Asia Pacific and Middle East 2026.--Dokumentasi Humas Sapuangin ITS
Sapuangin XI Evo 5.0 tampil elegan dengan bodi berwarna hitam glossy. Kilauan warna gelap tersebut dipadukan dengan aksen garis biru, merah, dan kuning yang tegas. Tulisan "Doa Ibu" disematkan di samping nomor lambung 501. Tulisan sederhana yang sarat makna itu menjadi kekuatan tim sekaligus wujud dukungan spiritual.
Sebelum ke Qatar, seluruh anggota tim bekerja ekstrakeras. Lembur sudah menjadi agenda rutin di tengah jadwal akademik yang padat. Menurut Abhirama yang kini semester 8, ia dan teman-temannya bisa sibuk di bengkel dari pukul 19.30 WIB sampai 03.00 WIB. Paginya, mereka kuliah atau bimbingan skripsi.
"Tentunya ada yang harus kami korbankan. Misalnya, waktu main bersama teman-teman. Tapi, di Sapuangin, kami mendapat teman-teman baru," tambah Candra.
BACA JUGA:Dies Natalis ke-65, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Gelar Tennovex dan Pamerkan RISSA
BACA JUGA:Daftar Prodi Baru SNBP 2026 di UI, ITB, IPB, ITS, dan Unpad, Cek Peluangnya!
Kesibukan yang padat itu mendorong anggota tim mampu membagi waktu dengan bijak. Agenda yang tidak terlalu urgent terpaksa dikurangi. Di antaranya adalah nongkrong dan istirahat.

KYLE LUVIAN di balik kemudi Sapuangin XI Evo 5.0 saat berkompetisi di SEM Asia Pacific and Middle East 2026 di Qatar.--Dokumentasi Humas Sapuangin ITS
Sampai Qatar, perjuangan mereka berlanjut. Saat penilaian on-track, driving strategy menjadi faktor kunci. Di sinilah skill Kyle Luvian sebagai driver diuji.
"Sistem kemudi berada di tengah. Rasanya seperti mengendarai sepeda motor tetapi dengan setir mobil," urainya.
Bodi mobil yang rendah juga memberikan perspektif unik. Kyle merasa sangat dekat dengan aspal lintasan, seolah sedang berjalan kaki di atas sirkuit. Desain mobil yang tertutup rapat tanpa pendingin menguji ketahanan fisiknya di dalam kokpit. Apalagi, saat angin kencang menghantam bodi mobil secara tiba-tiba.
BACA JUGA:ITS Gagas Solusi Adaptif Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Kawasan, Pernah Raih Juara INOVBOYO 2025
BACA JUGA:Pameran Rupa Fest 5 DKV ITS, Angkat Isu Kemanusiaan di Era AI
"Angin dari depan seolah menahan laju kendaraan. Namun, ada kalanya angin tersebut menjadi keuntungan saat bertiup dari belakang. Mobil seperti terdorong," paparnya.
Dalam kondisi tersebut, Kyle tetap harus menjaga konsentrasi untuk berkoordinasi dengan tim secara real-time. Caranya berkomunikasi dengan race director adalah melalui panggilan grup. Ada intercom dan mikrofon yang ditanamkan pada helm dan membantu Kyle berkomunikasi intensif dengan tim.
Semangat juang dan kekompakan tim itu disemaikan Dr. Ir. Witantyo, M.Eng.Sc. yang merupakan dosen pembimbing Sapuangin. "Mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi teknisi, tapi juga berpikir sebagai seorang engineer yang tidak takut mencoba inovasi baru," pesannya seperti ditirukan Candra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: