Kantor Pertama PBNU Ada di Kota Pasuruan, Gus Amak Harapkan Menjadi Cagar Budaya NU
Gedung eks HBNO di Kota Pasuruan menjadi tonggak sejarah berdirinya PBNU -Lailiyah Rahmawati -
PASURUAN, HARIAN DISWAY - Kota PASURUAN selain memiliki bangunan cagar budaya bertema kolonial Belanda dan Tionghoa, juga memiliki sebuah bangunan tua yang layak ditetapkan sebagai cagar budaya Nahdlatul Ulama. Ya, sebuah bangunan berupa rumah besar di Jalan Diponegoro Kota PASURUAN adalah bekas gedung Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama atau cikal bakal lahirnya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pasuruan Gus Nailur Rochman berharap bangunan tersebut selanjutnya bisa menjadi cagar budaya NU yang menjadi museum sejarah perjuangan santri-santri NU di Kota Pasuruan yang perjuangannya menyebar ke seluruh Indonesia.
Rumah bekas gedung Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama itu diketahui milik KH Muhammad Dahlan, seorang ulama putra asli kelahiran Kota Pasuruan. KH Muhammad Dahlan juga merupakan Menteri Agama tahun 1967-1971. Di rumahnya itu, Kiai Dahlan memimpin perjuangan santri-santri dan masyarakat Pasuruan untuk melawan Belanda. Perjuangan Kiai Dahlan menjadi titik awal sebutan 'Kota Santri' bagi wilayah Pasuruan karena banyaknya para pejuang kala itu yang siap berjihad melawan penjajah.
"Rumah ini milik KH Muhammad Dahlan yang merupakan putra asli Kota Pasuruan. Beliau lahir di Kelurahan Mandaran. Di rumah ini banyak historis mengenai perjuangan awal Nahdlatul Ulama," ungkap Gus Amak panggilan akrab Ketua PCNU Kota Pasuruan.
BACA JUGA:Alun-alun Kota Pasuruan Kumuh Karena PKL, Ini Rencana Penataannya
BACA JUGA:Polemik Pemangkasan Reward Atlet Porprov Kota Pasuruan Memanas, DPRD Kritik Sikap Wali Kota
Gus Amak menyebut, rumah yang saat ini tidak berpenghuni tersebut diharapkan bisa menjadi bangunan cagar budaya NU ke depannya sehingga menjadi edukasi sejarah awal mula PBNU terbentuk dan juga kisah-kisah perjuangan para ulama menggelorakan semangat jihad para santri dan masyarakat di tahun 1944 sampai 1947 itu.
"Harapan kami rumah ini bisa menjadi cagar budayanya NU. Itu jika keluarga berkenan dan mengizinkan karena bangunan ini memiliki riwayat perjuangan ulama yang patut menjadi teladan," ujar Gus Amak.
Keinginan menjadikan bangunan eks gedung Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama sebagai cagar budaya NU juga diharapkan datang dari stakeholder lainnya sehingga sejarah perjuangan ulama dan denyut nadi awal berdirinya PBNU di Kota Pasuruan bisa menjadi edukasi bagi generasi selanjutnya.
BACA JUGA:Buntut Pemangkasan Reward Porprov di Kota Pasuruan, Unjuk Rasa Hingga Atlet Dipinang Daerah Lain
"Bangunan ini memiliki riwayat histori yang panjang. Menjadi saksi bagaimana perjuangan dari akar rumput melawan Belanda kala itu. Semoga pihak-pihak terkait juga bisa mewujudkan menjadikan bangunan HBNO ini sebagai cagar budayanya NU," imbuh Gus Amak. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: