Cowok-Cewek Check In Hotel di Medan, Jadi Pembunuhan: Korban Terlalu Pasrah
ILUSTRASI Cowok-Cewek Check In Hotel di Medan, Jadi Pembunuhan: Korban Terlalu Pasrah.-Arya/AI-Harian Disway-
Jangan salah, sekarang polisi sangat cepat mengidentifikasi mayat tanpa identitas. Segera diketahui, itu Rahmadani. Alamat sesuai catatan polisi, di desa asalnyi. Polisi menghubungi keluarga korban.
Rabu, 11 Maret 2026, keluarga korban mendatangi RS Bhayangkara, Medan, melihat jasad korban. Mereka membenarkan, itu Rahma. Keluarga korban, Nurma Siagian, menangis histeris melihat itu.
Nurma: ”Dia anak perantauan, kerja di toko HP. Bosnya nelepon kami di kampung, Rahma tidak masuk kerja sejak Senin. HP ia juga mati. Ternyata begini…”
Syawal dibekuk polisi di jalanan Medan, saat ia membawa koper besar, rupanya hendak kabur. Dua jam kemudian polisi membekuk Sofwan di tempat kosnya di Medan.
Banyaknya kasus model begitu pasti mengkhawatirkan masyarakat. Menakutkan remaja cewek dan para ortu mereka. Bukan soal hubungan seks di luar nikah. Itu sudah rahasia umum. Tapi, soal kekerasan pasangan, sampai pembunuhan. Yang begitu gampang.
Dikutip dari American Psychological Association, 1 Oktober 2023, berjudul Up to 19% of teens experience dating violence. Psychologists want to break the cycle, karya Zara Abrams, diungkapkan para pakar soal itu.
Ketika remaja mulai berkencan, percintaan, dan seks, sejumlah besar dari mereka menjadi korban kekerasan. Di Amerika Serikat (AS) 19 persen remaja mengalami kekerasan seksual atau fisik dalam berkencan.
Sekitar setengahnya menghadapi penguntitan atau pelecehan dan 65 persen melaporkan mengalami pelecehan psikologis (”Teen Dating Violence”, Office of Juvenile Justice and Delinquency Prevention, U.S. Department of Justice, 2022).
Tindak kekerasan dapat terjadi ketika remaja belum memiliki keterampilan mengelola konflik, mengatasi cemburu, dan menghadapi penolakan. Hal itu kian intensif dengan munculnya medsos. Banyak interaksi sosial remaja kini terjadi di ruang publik daring, menambah perasaan malu, dan takut akan penilaian orang lain.
Psikolog Sherry Hamby, pemimpin Life Paths Research Center di Sewanee, Tennessee, AS: ”Wajar kaum muda mengeksplorasi seksualitas mereka. Tetapi, sebagai masyarakat, kita belum punya cara mendukung itu sekaligus melindungi mereka dari risiko kekerasan.”
Para psikolog menyoroti itu dengan penelitian tentang faktor risiko dan pelindung serta pendekatan baru untuk pencegahan yang memprioritaskan keterampilan dan kekuatan daripada psikoedukasi tradisional.
Upaya-upaya tersebut tidak hanya melindungi remaja selama periode perkembangan yang kritis, tetapi juga dapat mengurangi risiko kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di kemudian hari.
Prof Christie Rizzo, psikolog Northeastern University, Boston, AS: ”Ada banyak hal patut disyukuri karena kita akhirnya menyadari bahwa dengan pendekatan yang tepat, kita dapat melakukan intervensi dengan cara yang mengubah arah hidup kaum muda.”
Seperti halnya KDRT, kekerasan di kalangan remaja bersifat multifaset dan banyak penyebab.
Anak-anak yang mengalami trauma, kemiskinan, atau berbagai pengalaman masa kecil buruk, Adverse Childhood Experiences (ACEs) cenderung menjadi korban dan pelaku kekerasan selama masa remaja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: