Kelas Baru NU
MALAM Anugerah Lembaga Perguruan Tinggi NU (LPTNU) 2026.-Arif Afandi untuk Harian Disway.-
”Kamu tahu apa isi surat yang pernah dititipkan saat kamu kali pertama ke Jogja? Dalam surat itu, ibumu meminta saya agar menjaga kamu untuk tidak menjadi Muhammadiyah,” katanya saat melayat ke rumah saya di Blitar.
BACA JUGA:Suara NU-Gereja
BACA JUGA:Beyond NU
Begitulah yang terjadi di masa itu. Dulu, kalau ada orang NU yang terlalu pintar, orang kampung sering berbisik: jangan-jangan ia Muhammadiyah. Itulah persepsi yang berkembang di lingkungan warga nahdliyin.
Persepsi itu terbangun karena memang NU sejak dulu dikenal besar, tapi defisit intelektual akademik. NU kuat di pesantren, jaringan kiai, dan tradisi keilmuan kitab kuning. Namun, NU lemah di dunia akademik modern, sedikit doktor, dan hampir tidak ada profesor.
Banyak intelektual kampus berasal dari Muhammadiyah. Dengan demikian, persepsi sosial yang berkembang, Muhammadiyah identik dengan modernitas, rasional, dan kampus. Sebaliknya, NU identik dengan pesantren tradisional dan kolot.
Persepsi itu kini telah berubah. Malam anugerah LPTNU tersebut hanya sebagian dari simbol perubahan itu. Tentu perubahan tersebut tak terjadi tiba-tiba. Gelombang perubahan itu mulai sejak 1980-an. Ketika makin banyak santri yang tersentuh pendidikan umum.
Hasil baru sangat terasa sekarang. Apalagi, dalam satu dekade belakangan, terjadi gelombang untuk mendirikan universitas NU. Juga, makin banyak santri NU yang berkiprah di dunia sains dan teknologi. Bahkan, sampai di luar negeri.
Pendirian lembaga pendidikan tinggi NU itu mengonsolidasi para profesor dan doktor NU yang tersebar di berbagai tempat. Mereka itu bisa disebut sebagai diaspora intelektual NU yang menjadi akademisi di kampus negeri dan kampus internasional.
Merebaknya perguruan tinggi NU dan banyaknya diaspora akademisi NU telah melahirkan generasi baru NU. Mereka bisa disebut sebagai santri akademisi. Akademisi yang fasih dengan kitab kuning, tapi menulis jurnal Scopus dan mengajar di universitas.
Mereka adalah generasi santri yang tradisional, tapi modern. Secara kultural, mereka tetap NU. Namun, cara berpikir global dan rasional selalu menyertainya. Mereka adalah generasi baru NU yang percaya diri secara intelektual, tapi tidak lagi inferior di ruang akademik.
Malam anugerah itu akhirnya menjadi simbol gelombang baru NU. Merebaknya rektor-rektor NU bergelar doktor, profesor dari kampus, dan riset-riset baru dari kampus NU. Simbol bahwa NU tak lagi sekadar organisasi masa keagamaan. Tapi, mulai menjadi ekosistem pengetahuan.
Ia juga menjadi tonggak transformasi besar NU hari ini. Dari NU kultural ke NU intelektual. Dari NU lama yang hanya berbasis pesantren ke NU baru berbasis pesantren dan universitas. Dari otoritas kiai ke kiai plus profesor. Dari kitab kuning ke kitab dan jurnal. Dan, dari tradisi lisan ke produksi pengetahuan.
Tentu perubahan tersebut belum selesai. Masih ada tantangan besar bagi generasi NU baru ini. Apa itu? Yakni, bagaimana mereka menghasilkan riset yang berkualitas dan bisa bersaing secara global. Juga, bagaimana mengintegrasikan antara pesantren dan universitas dalam memproduksi ilmu berbasis tradisi NU.
Yang menggembirakan, orang pintar NU kini tak lagi dicurigai. Jika dulu orang pintar di kampung sering disangka Muhammadiyah, hari ini keadaan telah berbalik. Orang NU kini tak hanya pintar. Mereka juga menulis buku, membuat riset, memimpin universitas, dan membangun tradisi intelektual baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: