Teleologi Ramadan

Teleologi Ramadan

ILUSTRASI Teleologi Ramadan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Iftar secara terminologis dipahami sebagai momen berbuka ketika azan Magrib tiba. Adapun secara etimologis, ia bermakna menciptakan (Majma‘ al-Lughah al-‘Arabiyyah, 2004, p. 694), yaitu menciptakan satu keadaan baru dari yang sebelumnya menahan diri dari segala yang membatalkan puasa menjadi membolehkannya. 

Jika pada periode imsak, proses penyucian diri sedang sepenuhnya bekerja, dari mata, telinga, tangan, kaki, pikiran, hingga hati, maka ketika masa iftar tiba, hasil dari upaya tersebut telah tiba: fitrah –yang seakar kata dengan iftar– alias kesucian diri.

BACA JUGA:Ramadan, Momentum Menahan Diri dari Pinjol

BACA JUGA:Ramadan dan Antropologi Rasa

Karena itu, selepas iftar, hasil pembersihan tersebut idealnya tidak dikotori lagi dengan makan dan minum secara berlebihan, termasuk juga kembalinya kemaksiatan pancaindra dan perilaku. 

Iftar sejatinya adalah Idulfitri kecil, yang jika mampu dilakukan dengan hikmat dari hari ke hari selama sebulan penuh, akan berakumulasi pada Idulfitri agung, yaitu kesucian paripurna pada Idulfitri 1 Syawal.

TARAWIH MENYIRATKAN PENGHIASAN DIRI

Tarawih merupakan kelanjutan dari kegiatan penyucian diri. Jika imsak adalah proses pembersihan, sementara iftar adalah keadaan menjadi bersih dan suci, Tarawih adalah masa penghiasan diri. 

Hal itu sebenarnya dapat dipahami secara analogis. Bukankah dalam hal merenovasi rumah, sebagai contoh, agar mendapatkan hasil yang memuaskan, seseorang perlu untuk membersihkan rumah tersebut dari kotoran terlebih dahulu, baru kemudian menghiasinya dengan aneka cat dan hiasan?

Dalam Tarawih, cat dan hiasan tersebut berupa kejernihan pikiran dan pencerahan batin, yang termanifestasikan dalam ayat-ayat yang dibaca ketika salat Tarawih, termasuk yang dijelaskan oleh para guru dan ulama di luar waktu salat tersebut. 

Ayat-ayat Al-Qur’an itu sendiri merupakan sumber ilmu dan hikmah sepanjang masa, yang tidak hanya mengandung doktrin eksklusif bagi umat Islam, tetapi juga beragam nilai inklusif yang selaras dengan spirit kemanusiaan universal.

Selanjutnya, agar proses penghiasan tersebut berhasil, dibutuhkan ketenangan; dan ketenangan itulah yang dirujuk oleh makna Tarawih itu sendiri, yaitu pengistirahatan. 

Dalam satu hadisnya, setiap kali waktu salat tiba, Rasulullah SAW diketahui selalu mengatakan ”arihna ya Bilal!” –yang arihna itu sendiri bermakna istirahatkan kami– agar Bilal mengumandangkan azan. Artinya, salat sesungguhnya waktu untuk mengistirahatkan pikiran dan jiwa seorang muslim.

ZAKAT FITRAH SEBAGAI PEMBENAR IMAN

Ritual terakhir dalam proses penyucian diri adalah mengeluarkan zakat fitrah. Jika zakat mal dikeluarkan untuk membersihkan harta, zakat fitrah adalah zakat yang berfungsi untuk membersihkan jiwa seorang muslim. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: