Teleologi Ramadan

Teleologi Ramadan

ILUSTRASI Teleologi Ramadan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Karena itu, persiapan yang baik adalah segala-galanya. Kegagalan merencanakan sama artinya dengan merencanakan kegagalan. 

Di sini, selain persiapan fisik yang ada pada sahur, juga diperlukan persiapan pikiran dan jiwa yang termanifestasikan dalam anjuran beristigfar (wa bi al-ashar hum yastaghirun, Al-Dhariyat: 18).

KESABARAN SEBAGAI ESENSI IMSAK

Setelah sahur, ritual selanjutnya adalah imsak. Imsak di sini, yang berarti menahan, tidak merujuk pada apa yang dikenal sebagai waktu beberapa menit menjelang azan Subuh sebagaimana dipahami kebanyakan orang. 

BACA JUGA:MBG saat Ramadan

BACA JUGA:Ramadan: Bebas dari Keserakahan

Namun, ia secara esensial merujuk pada periode menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Imsak di sini merupakan inti dari proses penyucian diri itu sendiri. Jika dilanggar, puasa batal.

Nilai terbesar dari ritual imsak adalah kesabaran. Seorang yang berpuasa sejatinya tidak dilatih hanya untuk sabar dalam menahan makan dan minum, tapi juga menahan lisan dan perbuatannya dari bermaksiat. 

Termasuk juga ia dilatih untuk sabar memastikan bahwa pikirannya selama berpuasa tidak keluar kecuali untuk mengingat Allah SWT.

Dari sini, dapat dikatakan bahwa jika seseorang yang berpuasa pada akhirnya makan, minum, dan berhubungan badan selayaknya suami istri, puasanya batal. 

BACA JUGA:Refleksi Ramadan: Berharap Kepemimpinan Indonesia yang Lebih Empatik

BACA JUGA:Tetap Produktif Berkarya Selama Puasa Ramadan

Adapun jika ia dengan sengaja membiarkan lisan dan perbuatan indrawinya berbuat maksiat, puasanya boleh jadi tidak batal, tetapi pahala puasanyalah yang batal. 

Hal itu selaras dengan hadis yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, ”betapa banyak orang berpuasa, tetapi yang ia peroleh hanyalah lapar dan dahaga.”  

SETIAP IFTAR ADALAH IDULFITRI KECIL

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: