Menanti Ketupat di Wisma Indonesia
Suasana Open House di KBRI Washington DC, 2025 silam. Sekitar 1.400 warga hadir, mayoritas diaspora yang bersilaturahmi.--KBRI Washington DC
Setiap tahun, pertanyaan yang sama selalu muncul di grup WhatsApp diaspora sekitar satu minggu sebelum Lebaran: "Ada yang tahu kapan KJRI ngadain halal bihalal?" atau untuk grup lintas benua, "Di tempatmu, kapan KBRI ngadain open house?"
Dan setiap tahun, begitu tanggal dan tempatnya keluar, kabar itu langsung menyebar dari satu grup ke grup lain. Ada yang rela menyetir 2-3 jam. Ada yang sampai mengambil cuti.
Bukan karena tidak ada pilihan lain. Tapi karena untuk diaspora, acara seperti ini tidak tergantikan.
Lebaran di Negeri Orang
Lebaran di luar negeri terasa berbeda. Kalender di sini jalan terus. Toko-toko tidak tutup. Tidak ada suara takbir dari masjid sebelah rumah, tidak ada aroma masakan yang keluar dari dapur tetangga sejak subuh. Kita merayakan hari kemenangan, tetapi sekeliling kita tidak ikut merayakan.
Tidak semua dari kami bisa mudik. Tiket mahal, cuti terbatas, pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Sebagian memilih mengirim uang dulu ke keluarga di Indonesia sebelum memikirkan kebutuhan dirinya sendiri.
Kehidupan di luar negeri tidak selalu semewah yang dibayangkan orang-orang di kampung. Bahkan bagi sebagian orang, jangankan mudik, makan kupat sayur saja sudah terasa mewah.
Rindu Saling Bertemu
Soal imbauan pemerintah agar halal bihalal tidak digelar berlebihan, kami paham. Masih banyak yang hidupnya belum baik-baik saja, di sana maupun di sini.
Kesederhanaan bukan masalah. Kami memang tidak datang untuk pesta. Kami datang karena butuh ketemu orang, sesama yang mengerti rasanya jauh dari keluarga di hari seperti ini.
Ketika KBRI atau KJRI membuka pintu untuk open house dan halal bihalal, tempat itu bukan sekadar bangunan perwakilan Indonesia, tetapi jadi seperti rumah bersama.
Keramaian khas orang Indonesia terdengar dari berbagai sudut. Ada yang ketemu teman lama yang ternyata tinggal satu kota tapi belum pernah sempat bertemu.
Ada yang saling salim, ada yang langsung nyambung ngobrol soal kampung halaman yang sama. Ada ketupat di meja, ada opor, kadang ada rendang kalau beruntung. Dan untuk beberapa jam, Lebaran terasa seperti Lebaran.
Menjaga Tradisi
Yang mungkin tidak selalu terlihat dari luar adalah betapa pentingnya momen ini bagi anak-anak kami. Mereka tumbuh di sini, sekolah di sini, dan tidak kenal riuhnya rumah nenek waktu Lebaran.
Tapi, di acara seperti ini, mereka lihat orang tuanya bersalaman. Mereka dengar "mohon maaf lahir dan batin". Mereka ikut mencicipi ketupat. Pelan-pelan, itu jadi bagian dari ingatan mereka juga.
Tradisi tidak otomatis bertahan. Di luar negeri, kalau tidak sengaja dijaga, ya hilang. Karena itu, bagi diaspora, open house dan halal bihalal di perwakilan RI, baik KBRI maupun KJRI, bukan sekadar acara. Ini adalah salah satu cara kami tetap terhubung: dengan sesama, dengan budaya, dan dengan anak-anak kami sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: